Muhamad Suar Nasution, atau lebih dikenal dengan nama Suar, merupakan sosok musisi yang sangat berpengaruh di era 90-an, berkat kiprahnya bersama band fenomenal dari Bandung, Pure Saturday. Beliau meninggalkan band tersebut saat penggarapan album ketiga mereka yang bertajuk Elora. Berikut wawancara Nicko Krisna dengan Suar.

IMG_0088

  • Ceritain dong, awal terbentuknya Pure Saturday

    Pure Saturday (PS) berawal dari kesamaan hobi gue, Udhi (Yudhistira) dan Adhi. Kami bertiga sudah kenal sejak SD, walaupun cuma Udhi yang bersekolah di SMP yang sama dengan gue. Mulai SMP kita membentuk band yang dinamakan Liar, personilnya gue (bas), Udhi (drum), Adhi (gitar), Almarhum Bagus (gitar) dan Heru (vokal)‎. Kami tampil di acara perpisahan SMPN 2 Bandung.

    Setelah SMA, gue, Udhi dan Adhi meneruskan hobi bermusik dengan membentuk band baru, yaitu Tambal Band, dengan personil gue (vokal dan akustik), Udhi (drum), Adhi (gitar), Arief (gitar) dan Nova (bas). Lalu kita pun sering main di acara-acara pensi SMA.

    Setelah kelulusan, Nova harus melanjutkan kuliah ke Jember. Posisi Nova pun digantikan oleh Ade Muir. Pas ada festival unplugged se-Jawa Bali, kita mendaftarkan diri. Agar terdengar lebih serius, nama Tambal Band pun kita ganti menjadi Pure Saturday karena kita selalu kumpul Sabtu malam untuk latihan dan membuat lagu. Dan ternyata PS berhasil menjadi juara. Dari situ kita lebih semangat lagi dan sering diundang ke acara-acara pentas seni SMA maupun pensi anak kuliahan. Lalu Ambar (manager Pas Band) pada saat itu menawarkan PS utk masuk dapur rekaman dengan sistem indie label. Akhirnya kita membuat album pertama (“Pure Saturday”/Self-titled) yang tak terduga mendapat sambutan bagus dari para penggemar musik ‎ indie. Dengan menggandeng majalah Hai untuk distribusi secara mail order, PS makin dikenal di nusantara dan sistem mail order lewat majalah nasional ini pun menjadi terobosan baru sistem pendistribusian kaset di indonesia pada saat itu. Mungkin itu sebabnya PS sering disebut sebagai penggerak musik independen hingga saat ini.

  • Apa lagu Pure Saturday yang paling berkesan buat elo. Kenapa?

    Gue suka banget dengan lagu “Belati”. Artinya sangat dalam. Sampai suatu saat dapat “suicide note” dari salah seorang penggemar PS karena dia sering dengerin lagu itu. Akhirnya kami pun jarang membawakan lagu itu lagi.

  • Masih inget ngga panggung yang paling membekas buat elo pas manggung sama PS di era 90-an? Kalo iya, di mana dan kenapa?

    Waktu itu kita diundang manggung di Universitas Pasundan Bandung, lokasinya di Ciumbeuleuit ‎yang dikenal sebagai daerah dingin. Karena performance kami dijadwalkan terakhir dan acara molor, kami baru main jam 3 pagi dan berhenti pas mulai terdengar adzan. Dingin banget, euy! Untungnya penonton masih ramai sampai jam segitu, karena pada saat itu belum ada jam malam seperti sekarang.

  • Apa alasan utama elo meninggalkan band tersebut?

    Gue mundur dari PS pada saat kami menggarap ‎album Elora di Puncak. Saat itu PS lagi bikin materi lagu album tersebut, tiba-tiba gue ada panggilan tugas ke Yemen dan saat itu juga gue sampaikan ke personil lain bahwa gue akan mundur, karena gue ngga mau menghambat PS dalam bermusik. Setelah pulang dari Puncak, PS pun mulai mencari vokalis baru.

  • Seperti apa, sih, pengaruh dekade 80 & 90-an di musik dan kehidupan elo?

    The Cure sangat mempengaruhi gue dalam bermusik. Robert Smith itu karismatik, tidak banyak bicara pada saat manggung, tapi bisa menyihir penonton dengan musik dan suara khasnya. ‎Beberapa band shoegaze juga sedikit banyak mempengaruhi musik gue, seperti My Bloody Valentine dengan ciri khas distorsi melayangnya. Sering gue nyoba meniru sound-nya Kevin Shields, namun ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

  • Elo nyadar ngga, kalo elo berpengaruh terhadap musisi-musisi indie pop masa kini? Kalo iya, sebutin apa yang bikin elo sadar akan hal tersebut.

    Awalnya gue ngga merasa kalau PS itu memberi pengaruh dan inspirasi bagi musisi-musisi lain. Tapi, setelah puluhan tahun kemudian baru gue menyadari hal tersebut pada saat melihat dan mendengar testimoni ataupun karya-karya band lain yang terpengaruh oleh musik kami. Hal ini pula yang membuat gue ngga bisa berhenti untuk selalu bermusik.

  • Sekarang kesibukan elo apa?

    Pekerjaan gue sekarang ini menuntut untuk tidak berada di Indonesia di setengah hidup gue. Jadwal kerja lima minggu di Kuwait dan lima minggu cuti di rumah sudah gue jalani selama 8 tahun belakangan ini. Jadi, kegiatan gue selama cuti biasanya mengisi waktu dengan keluarga dan mengerjakan hobi-hobi yang lain seperti fotografi, bermusik (bikin lagu, terus rekam sendiri di kamar), membuat gitar (sudah ada, lho, gitar merk Kai yang didesain oleh Adhi, gue, Ayi dan Ade Muir), dan masih banyak lagi. Belakangan ini gue sempat juga bikin event dan tampil jadi DJ di seri event British Knight Out yang gue buat bareng istri.

  • Sebutin dong, tokoh 80’s dan 90’s yang paling berpengaruh terhadap karya elo.
    Waduh, gue paling suka ke ‘tokoh’ material lihat-lihat bahan bangunan 😛
  • Apa yang paling elo inget banget dari era 80’s dan 90’s?
    Tahun 80-an paling inget Gunung Galunggung meletus, tahun 90-an paling inget kerusuhan.
  • 😀
    😀
  • Terakhir nih, sebutin satu lagu 80’s atau 90’s kesukaan elo
    Kool & the Gang – Get Down on It.

Comments

comments