Beliau dikenal sebagai song writer yang berhasil memberi warna baru terhadap blantika musik Indonesia, di era akhir 70-an, dan awal 80-an. Kiprahnya dengan group CHASEIRO sukses membius penggemar musik pop lokal, melalui hit-hitnya. Sementara, album-album solo karirnya pun menjadi tonggak sejarah lagu ‘keren’ dan ‘mewah’ di halaman pertama peta industri musik lokal! Tanpa panjang lebar, yuk, simak wawancara Nicko Krisna dengan Candra Darusman berikut ini.

IMG_0278

  • Bagaimana ceritanya, dulu Om Candra bisa terjun ke dunia musik profesional?
    Sebenarnya sudah sejak SMP saya berkeinginan menjadi musisi. Waktu lulus SMA, saya disarankan untuk kuliah di FEUI (Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) hingga selesai, walaupun orang tua tidak pernah melarang saya jadi musisi. Setelah lulus kuliah, saya disarankan lagi untuk bekerja dan kemudian memilih bekerja di Citibank. Setelah hampir dua tahun bekerja, akhirnya saya mengambil keputusan terjun full-time di musik sejalan dengan berkembangnya Karimata.
  • Ceritain dong awal mula terbentuknya CHASEIRO
    CHASEIRO bermula dari berhasilnya kami menjuarai Festival Vokal Grup yang diselenggarakan oleh Radio Amigos. Kebetulan salah satu anggota dewan juri yaitu Om Benny Mustafa, yang notabene memperhatikan potensi grup ini, memperkenalkan kami ke pemilik Musica Studios yang kemudian mengontrak kami untuk dua album. Tak disangka, album pertama CHASEIRO yang berjudul “Pemuda” laris terjual, maka berlanjutlah dengan dua album berikutnya.
  • Ada ngga musisi yang mempengaruhi gaya bermain piano Anda? Kalo iya, siapa?
    Saya terpengaruh oleh musik Sergio Mendes, Deodato, Bill Evans (pianis), Chicago dan Manhattan Transfer (grup vokal).
  • Bagaimana dengan penyanyi? Adakah yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap karya maupun style bernyanyi Anda?
    Michael Franks.
  • IMG_0378
  • Dari semua pengalaman manggung sepanjang karir Anda, mana yang paling berkesan?
    Ada dua peristiwa yang cukup menjadi landmark. Pertama, show tunggal CHASEIRO tahun 1980. Saat itu, rasanya kami grup musik pop pertama yang menggunakan orkestra. Conductor-nya adalah Benny Likumahua, ayah dari Barry Likumahua. Yang kedua, tatkala bermain dengan orkes Jepang dalam rangka World Pop Song Festival di Tokyo. Saya adalah arranger-nya. Menjadi peserta dari Indonesia sebanyak dua kali (1985 dan 1987), membawakan “Burung Camar” ciptaan Aryono Huboyo Djati dan Iwan Abdurachman, lalu “Kembalikan Baliku” ciptaan Guruh Soekarno Putra. Keduanya berhasil meraih award.
  • Apa perbedaan album CHASEIRO dengan album solo Anda?
    Tentu beda. Lagu-lagu CHASEIRO untuk grup vokal, album solo untuk lagu-lagu soloist.
  • Lagu yang mana yang menjadi favorit Anda, baik di album CHASEIRO maupun di album solo Anda? Mengapa?
    Agak susah menjawabnya sebab setiap lagu punya karakter sendiri-sendiri. Paling tidak yang sering kita bawakan di panggung adalah “Pemuda”, “Dunia di Batas Senja”, “Ceria”, “Dara” dan “Sapa Prabencana”.
  • Karimata vakum, apa gimana? Masih ada keinginan untuk membuat album baru, ngga (dari semua personilnya)?
    Penyebab kevakuman Karimata adalah kesibukan karir masing-masing. Ditambah lagi Denni TR yang belum pulih setelah kena stroke ringan. Walaupun demikian niat untuk konser tidak total dikesampingkan.
  • Saat ini, lagi mendengarkan album siapa?
    Saya malah sedang banyak mendengarkan musik klasik
  • Pesan untuk musisi-musisi muda nusantara, dong, Om…
  • Apapun pilihan profesi setiap orang, selain ahli di bidangnya harus bersikap disiplin, tepat waktu juga menjaga komitmen. Dari situ akan mendapat reputasi. Kalau mau terjun ke dunia musik harus betul-betul punya warna. Bagi saya warna akan muncul tanpa dibuat-buat. Dia lahir jika kita jujur dalam berkarya atau keluar dari hati. Mengapa? Karena seni itu harus menyentuh hati pendengarnya. Kalau bukan dari hati kita, musik tersebut sukar menyentuh hati orang lain.
  • Memang abstrak, tetapi di situlah misterinya.  Apa sih yang bisa menyentuh hati? Kalau menurut hemat saya, kepekaan. Saran saya untuk anak-anak muda, cobalah untuk mengasah kepekaan. Pintar-pintar dan rajin-rajinlah mengamati kehidupan, mendengar, membaca dan berpikir.Jika seseorang belum meraih kesuksesan, itu berarti memang bukan bidangnya atau kita belum menggunakan segala potensi dalam diri kita. Tentu unsur ‘luck‘ juga berperan, tetapi itu bukan wilayah manusia..
    Demikian jawaban-jawaban saya. Tentu bisa berbeda dengan orang lain.

 

 

Comments

comments