Satu lagi fenomena yang ga terlupakan di musik pop era 80 & 90an yaitu Boyband. Asiiik..kita ngomongin tentang Hanson & The Moffatts! Halaah bukan! Boyband, bukan band bocah! Oooh.. boyband.. kaya Super Junior gitu ya? Yang joget-joget  itu? Aduh, sorry-sorry,nih, tapi ga gitu juga, makanya dengerin dulu.

Terus, apa sih sebenernya yang bisa dikategorikan sebagai Boyband?

Istilah “Boyband” bisa jadi baru populer di akhir era 80-an, sebelumnya cuma disebut sebagai male vocal groups atau hep harmony singing groups.
Boyband (atau Boy Band) bisa didefinisikan sebagai kelompok vokal (biasanya terdiri dari 3-6 orang) beranggota pria usia belasan pada awal terbentuk hingga usia 20 tahunan pada masa karirnya, yang umumnya memainkan genre pop, R&B atau Hip Hop.  Awal terbentuknya sebuah boyband biasanya terbentuk dari perkembangan popularisme untuk paduan suara gereja (gospel) atau melalui audisi suatu pencarian bakat oleh Talent Manager atau produser rekaman. Orientasi konsumen boyband adalah pendengar di usia praremaja hingga praremaja (teenyboppers).

Personil boyband tidak dituntut untuk memainkan instrumen apapun baik di sesi rekaman maupun di atas panggung, sebagai gantinya, mereka menyajikan koreografi untuk mendukung performance panggung mereka, terutama di lagu-lagu upbeat mereka yang memerlukan efek visual bagi para penontonnya.

However, kata “boy” & “band” secara terpisah ini sering dipersepsikan keliru. “Band” yang dipahami secara umum adalah kelompok musik yang memainkan instrumen dasar seperti gitar, bass, drum (dan kadang-kadang keyboard), sehingga Hanson (Taylor HansonKeyboards, Vocal, Isaac Hanson Guitar, Vocal dan Zac HansonDrums, Vocal ) dan The Moffatts (Scott MoffattGuitar, Vocal, Dave MoffattKeyboard, Vocal, Clint MoffattBass, Backing Vocal dan Bob MoffattDrums, Backing Vocals) tak jarang dikategorikan sebagai boyband oleh berbagai media. Salah kaprah ini terus berlanjut hingga era Jonas Brothers dan Big Time Rush pada masa sekarang. Lalu sebaliknya, tepatkah penggunaan “band” dalam istilah “boyband’? Well, definisi “Band” menurut Merriam Webster Dictionary :  a group of persons, animals, or things; especially :  a group of musicians organized for ensemble playing. So, sah-sah aja, kan? 😉

Kok Band ga bisa nge-band?
FAQ (Frequently Asked Questions) ini sering banget dilontarkan, sehingga para Boyband kadang tergelitik untuk show off, menunjukkan keahlian mereka bermain alat musik di konser mereka. Berikut dua event yang gue inget banget:

Take That (Nobody Else Tour, 1995 – 17 oktober 1995 di Jakarta) memainkan lagu Another Brick in The Wall” (Pink Floyd) dan  Smell Like Teen Spirit” (Nirvana) dengan formasi Gary Barlow (Vokal, Keyboard), Jason Orange (Vokal, Gitar), Mark Owen (Bass) dan Howard Donald (Drum). Di beberapa lagu down-tempo dalam tour ini, Gary juga memainkan piano dan Jason nge-gitar.

Howie D dari Backstreet Boys (Homecoming Live in Orlando, 1998) memberi introduksi lagu yang akan mereka nyanyikan berikutnya yaitu Quit Playing Games (With My Heart) dan bersiap-siap blocking untuk melakukan koreografi di intro lagu, hingga band pengiring mereka (pura-pura) salah memainkan intro lagu tersebut dengan versi rock, lalu versi polka yang langsung dihentikan oleh member BSB. Dua kali di”protes”, penabuh perkusi Obie Morent langsung melemparkan stik drumnya ke Nick Carter sambil ngomong, “If you guys don’t like the way that we want to play the song, why don’t you guys come up here, and YOU play the song!
‘Tantangan’ tersebut diterima oleh para personil BSB, dan mereka langsung memainkan salah satu lagu hit mereka itu dengan formasi: Brian Litrell (Perkusi), Nick Carter (Drum), Howard Dorough (Gitar), AJ McLean (Bass) dan Kevin Richardson (Keyboard).

Sejarah Boyband
Setelah browsing sana-sini, akhirnya gue dapet juga info bahwa , pembentukan boyband ini diawali pada akhir abad ke-19 atas budaya ber-acapella yang dikenal diperkenalkan oleh Barbershop Quartets. Barbershop Quartets ini bertahan hingga awal abad ke-20.
Trend kelompok vokal pria ini muncul kembali pada tahun 50-an seiring dengan Doo Wop Music yang liriknya ngebahas soal cinta-cintan remaja, gitu deh. Kelompok yang ngetop pada masa itu yaitu The Ink Spot.

  • 60’s – 70’s
    Di era 60-an, muncullah para tokoh sejarah boyband, seperti The Monkees, The Jackson 5 dan The Osmonds. Uniknya, The Monkees diawali dari serial fiktif TV yang masing-masing anggotanya “dipasangkan” karakter/kepribadian fiktif oleh produsernya (mengingatkan kita pada girlband Spice Girls atau Solid Harmonie di era 90-an), di serial TV a la film That Thing You Do! (1996) tersebut,  meski tetap menonjolkan harmonisasi vokal para personilnya, The Monkees bermain alat band, layaknya The Beatles yang pada saat itu sedang merajai musik dunia, beda dengan The Jackson 5 & The Osmonds yang sesekali menari sambil bernyanyi.
  • 80’s
    Pada tahun 1977, ‘paketan’ boyband ini mulai diperkenalkan kepada para penikmat musik pop latin. Di Purto Rico, dibentuklah Menudo yang menurut gue adalah satu-satunya boyband yang “Forever Young”, karena punya peraturan unik: pada saat membernya menginjak usia 16, atau mulai mengalami perubahan suara/akil balik, atau fisiknya terlalu tinggi, maka mereka harus meninggalkan grup dan melanjutkan karirnya sendiri, dan digantikan posisinya oleh personil baru hingga tetap konsisten terdiri dari 5 orang. Wow, sistemnya regenerasi, ya? Kaya sekolahan aja, walaupun ga serame personil girlband JKT 48, Indonesia (saduran AKB 48, Jepang) di masa sekarang. Masa keemasan Menudo adalah di era 80-an, di samping lagu berbahasa spanyol yang ngetop di negaranya, hits berbahasa Inggris mereka pun cukup populer di telinga kita, seperti No One Can Love You More, If You’re Not Here (By My Side), You Got Potential & To Leave Once More. Ex personil Menudo yang ga terlupakan adalah Robi Rosa, sempat menjadi aktor di film “Salsa“, dan menjadi song writer untuk teman se-grupnya Ricky Martin. Selain itu ada juga nama Marc Anthony yang dulunya adalah backing vocal Menudo di angkatan Ricky Martin. Di pertengahan 90-an, pendiri Menudo,  Edgardo Diaz menjual trademark nama Menudo ke satu company dari Panama, karir musik boyband ini berlanjut melempem dengan nama MDO, dengan member yang tak lagi 100% asal Puerto Rico dan berumur 16 tahun ke atas. Hingga tahun 2007 dibukalah audisi untuk :”The New” Menudo, yang… tetep, melempem karirnya hingga tahun 2009 saja. 🙁
    Masih di era 70-an, pada tahun 1978, dari tangan dingin si produser asal Amerika Serikat Maurice Starr, terbentuklah New Edition, yang mulai 1983 bisa dibilang icon boyband bergenre R&B di era 80-an, yang sempet bikin kita berjingkrak dengan hit Cool It Now, Candy Girl, Mr Telephone Man ataupun love song-nya Earth Angel. Yang patut diacungin jempol, ke-enam “lulusan” boyband ini ngetop semua! Sebut saja Johnny Gill (My, My, My), Ralph Tresvant (Sensitivity) dan (siapa yang ga kenal dengan) Bobby Brown (Don’t be Cruel, My Prerogative, Humpin’ Around) yang sukses dengan album solonya, dan ketiga personil lainnya Ricky Bell, Michael Bivins dan Ronnie DeVoe di bawah bendera Bel Biv Devoe , hentakan one-hit-wonder-nya yaitu “Poison” masih terngiang-ngiang sampai saat ini. New Edition disebut-sebut sebagai perintis trend boyband, meski sebenarnya istilah “boyband” sendiri baru mulai digunakan pada era 90-an.
    Sementara pada tahun 1986 di Inggris, terbentuklah Bros (dari kata ‘brothers’) yang beranggotakan si kembar Matt & Luke Goss plus Craig Logan yang sempet ngetop dengan hit When Will I Be Famous dan I Owe You Nothing. Masih di tanah Britania, muncul pula Brother Beyond (lagu When Will I See You Again) yang konon judul albumnya “Get Even” sengaja diilhami dari kecemburuan mereka atas ketenaran Bros. Juga si trio produser Stock-Aitken-Waterman pun melahirkan kelompok Big Fun (Blame it on The Boogie, Can’t Shake The Feeling).
    Ga puas juga dengan kesuksesan genre R&B yang diusung oleh New Edition, Maurice Starr pun mulai menggebrak pasar pop dengan kelompok vokal Nynuk yang beranggotakan Donnie Wahlberg, Danny Wood, Joey McIntyre dan si kakak-beradik Jordan & Jonathan Knight yang kemudian ngetop sengetop-ngetopnya sejak 1988 dengan nama  (alaaa, Zus, jangan pura-pura ga tau deh :-P) New Kids On The Block. Lagu-lagu hits mereka seperti Hangin’ Tough, You Got It (The Right Stuff), Please Don’t Go Girl, Step By Step dan Tonight memang ga gampang dilupakan sampai sekarang. Pada tahun 1990, untuk mengikis kesan “New Kids” yang sudah menempel pada mereka, dengan bantuan DJ ternama termasuk Clivilles & Cole dari C+C Music Factory, kelompok ini meremix hit lama dengan sentuhan R&B dan House yang kental di album “No More Games” dengan nama NKOTB yang selanjutnya mereka gunakan hingga album terakhir mereka (di era ini) Dirty Dawg, yang menurut gue pribadi sayang kalo berhenti di situ sebab kemampuan vokal mereka sudah mulai kelihatan terasah baik pas pertama gue denger “If You Go Away“. Sejak NKOTB inilah para produser boyband lainnya mulai memikirkan pembentukan karakter pada masing-masing personil untuk bisa mewakili selera fans (terutama kaum Zus) yang berbeda-beda. Di Indonesia, New Kids juga menginspirasi kelompok vokal Trio Libels (Ronny Sianturi, Edwin Manansang, dan Yani Airlangga) yang sudah lebih dulu berkarir sejak masih mewakili vokal grup SMA Lima Belas mulai membumbui performance mereka dengan koreografi, dan mulai merilis hits yang dance-able seperti Aku Suka Kamu dan Jerat-jerat Cinta. Trio Libels sempat menggelar acara TV regular mereka “Panggung Libels” di RCTI, walaupun pada saat itu Edwin berhalangan karena studinya, Armand Maulana (sebelum ngeband dengan Gigi) sementara menggantikan posisinya baik pada vokal maupun koreografi dalam program tersebut.
  • 90’s
    Terinpirasi dengan kesuksesan New Kids On The Block,  para manager musik di Eropa pun ga mau ketinggalan,di Inggris Nigel Martin-Smiths meluncurkan Take That pada tahun 1990, yang mendorong Tom Watkins yang pernah sukses dengan Bros-nya dengan sengaja melahirkan East 17 sebagai rival Take That. beberapa single dari Bros & New Kids On The Block boleh saja pernah menjadi nomer satu di tangga lagu UK, namun sepanjang karir Take That antara 1993-1996, bahkan sebelum reuni mereka di tahun 2005, cuma satu single mereka saja yang gagal nangkring di posisi jawara di chart. Ini menjadikan mereka salah satu band tersukses di sejarah musik Inggris, dan jadi inspirasi grup pop di Inggris lainnya semenjak itu. Konsep lagu-lagu Take That biasanya disajikan dengan satu lead vokal dan empat member lainnya sebagai backing vocal & dancer saja. Di album pertama dan ke dua mereka, Gary Barlow dan Robbie Williams bergantian menjadi vokalis utama, dan Mark Owen dan Howard Donald sempat juga mengisi posisi itu walaupun cuma di satu-dua lagu saja, si jago Breakdance Jason Orange bahkan tak pernah sekalipun menjadi lead singer. Denger-denger, tak satupun lagu yang dinyanyikan Robbie sebagai lead vocal di album ke tiga mereka merupakan pemicu keluarnya member TT ini, yang konon capek kalau harus terus-terusan menjadi penari latarnya Gary yang ga pinter nari. Wabah boyband inipun berjangkit hingga ke Irlandia, pada tahun 1993, produser Louis Walsh secara terang-terangan mempromosikan Take That versi Irish, yaitu Boyzone, yang langsung nge-hit dengan single “Love Me For A Reason” yang merupakan daur ulang hit lawas The Osmonds. Uniknya, suara bariton Ronan Keating dan suara tenor Stephen Gately membuat lagu-lagu Boyzone terdengar seperti duet cowo-cewe plus backing vocal (Shane Lynch, Mikey Graham, dan Keith Duffy). Boyband 90-an lainnya yang menikmati sukses mereka di Inggris adalah 911 (Body Shakin’, All I Want Is You, The Day We Find Love)dan MN8 (I’ve Got a Little Something for You), pada tahun 1995, dan Damage (Forever), 1996 meski usia karirnya cuma bertahan hingga akhir era 90-an. Di Indonesia sendiri, pada 80-an akhir hingga melejit di awal 90-an, sempat ada: Coboy yaitu Ali Mustafa, Gilbert Patiruhu, Ponco Buwono dan Ferry Pasalli yang semuanya adalah pemenang ajang Cover Boy oleh Majalah Mode. Pasti lo semua masih inget hit mereka, Percayalah dan Katakanlah. Cool Colours yang terdiri dari Surya Saputra, Ari Sihasale, dan Teuku Ryan (yang kemudian digantikan Ari Wibowo) plus Yohandi Yahya juga berkibar pada masa itu dengan single Sekali Lagi dan Tataplah. Tercatat juga nama boyband Indonesia 90-an lainnya seperti Catwalk, Hit Hot dan S’ring, walaupun menurut gue, boyband kita yang konsep genre, fashion dan koreografinya lebih mendekati trend dunia adalah boyband asal kota Bandung bernama ME (dengan member  Denny Saba, Didan Fitrasakti, Iravan Mirza, Ferry Iskandar M., dan Widi Cipto Utomo) yang merilis album pertama (dan terakhirnya 🙁 ) di tahun 1997. Meskipun demikian, hit mereka “Inikah Cinta” sudah berhasil menjadi classic hit hingga sekarang.

 

Boyband di era 80’s & 90’s lainnya

  • Color Me Badd, 1987. Boyband beraliran R&B yang anggotanya dari ras yang beragam dengan hit mereka I Wanna Sex You Up, All 4 Love, I Adore Mi Amor, dan Close To Heaven yang ngetop banget di Indonesia
  • Guys Next Door, boyband fiktif dari serial TV NBC berjudul sama dengan nama grupnya yang tayang tahun 1990, well memang filmnya ga masuk di TV Indonesia, tapi pastinya single mereka I’ve Been Waiting For You sempet santer juga di telinga kita pada saat itu.
  • Boyz II Men, bisa dibilang, boyband yang masih berkibar sejak 1988 hingga sekarang ini adalah boyband panutan nomer satu dalam soal kemampuan vokal! Lagu-lagunya pun merajai posisi atas di chart US, Australia dan dunia. Siapa yang bisa lupa dengan End of The Road, I’ll Make Love To You, Motown Philly, Water Runs Dry, dan On Bended Knee.  Bahkan pada tahun 2009, number one hit-nya Take That, Back For Good pun dinyanyikan kembali oleh mereka dengan gaya khas mereka yang keren banget.
  • All 4 One, dengan gaya gospel a la love songs-nya  Boyz II Men, muncul di tahun 1993 dan ngehit dengan So Much In Love, I Swear,  I Can Love You Like That, juga Smile Like Monalisa. Kayanya emang rata-rata hits mereka kalem-kalem semua, dengan market yang ditujukan untuk kalangan dewasa, bukan teenager seperti boyband pada umumnya. Boyz II Men pun kemudian melanjutkan perjalanan karirnya di market yang sama.
  • Backstreet Boys, dibentuk 1994 dan keluar di tahun 1996 bisa dibilang boyband bergenre pop dengan porsi vokal yang keren oleh masing-masing membernya. Grup ini berkibar  sejak 90-an sampai sekarang dan lagu-lagu mereka We’ve Got It Goin’ On,  I’ll Never Break Your Heart, Everybody (Backstreet’s Back), dan pastinya I Want It That Way selalu menjadi hits.
  • No Mercy, 1996 dengan genre eurodance/ dance-pop, racikan Frank Farian yang sempat mengorbitkan band disko Boney M & duo Milli Vanilli di era 80-an. Trio Amerika Latin ini sempat menggoyang dengan Where Do You Go, Please Don’t Go dan daur ulang slow-tempo milik The Real Milli Vanilli, When I Die.
  • 98 Degrees, juga keluaran ’96, ngetop dengan Because Of You, I Do (Cherish You), Give Me Just One Night (Una Noche) dan juga soundtrack dari film animasi produksi Disney, Mulan berjudul True To Your Heart.
  • *NSYNC (dibaca “In sync”) dari huruf akhir nama personilnya; Justin, Chris, Joey, Lance/Lansten dan JC, yang pada tahun 1995 awalnya dibentuk sebagai “cloning” Backstreet Boys, sejak single pertamanya I Want You Back di tahun 1996, cukup mencuri perhatian dengan koreografinya yang bisa dibilang bukan sekedar “tempelan” untuk stage act saja. Koreografer ngetop Darrin Henson & Wade Robson pun turut andil dalam performance mereka. Tearin’ Up My Heart, Bye Bye Bye, It’s Gonna Be Me, Pop dan This I Promise You ngetop pada masa itu. Boyband yang satu ini pernah berkolaborasi dengan nama-nama beken seperti  Elton John, Stevie Wonder, Michael Jackson, Phil Collins, Celine Dion, Aerosmith, Britney Spears, Nelly, Left Eye, Mary J. Blige, dan Gloria Estefan.
  • Five (juga ditulis ‘5ive‘) band bergenre pop, R&B dan Hip Hop asal Inggris orbitan Simon Cowell si juri jutek kontes talent yang kini sukses memproduseri One Direction, (fun fact: Simon sempat mau mengontrak Take That sebelum mereka ngetop, asal tanpa “the fat one”, Gary Barlow) 😉  . Anyways, boyband ini sempat hit dengan When The Lights Go Out, Keep On Movin’ , juga We Will Rock You yang dibawakan bareng musisi aslinya, Queen.
  • Lain-lain: The Temptations, The Four Tops, Bed & Breakfast, Caught In The Act, Perfect Gentlemen, The Boys, Worlds Apart, LFO (Lyte Funky Ones), O.T.T, Another Level, Point Break, 3T, Human Nature, Shai, Kulcha, dan Kru (Malaysia).

 

Awal Era Milenium

Boyband awal era 2000-an yang paling bisa dicatat adalah Westlife (terbentuk di akhir 90-an), grup ini dibentuk oleh Ronan Keating yang pada waktu itu Boyzone-nya tidak aktif lagi, tak heran, pengaruh Ronan sangat ketara pada vokal mereka. Plus-nya Westlife adalah pembagian vokal mereka lebih merata dibandingkan Boyzone, sayang, koreografi di-nomer-ke-sekiankan oleh mereka. Hits mereka antara lain Swear It Again & If I Let You Go, sementara selebihnya adalah cover dari lagu-lagu lama seperti Seasons In The Sun (Terry Jack), I Have A Dream (ABBA) dan Uptown Girl (Billy Joel), menurut gue, ini trik dagang yang cukup pinter sehingga ortu para ABG fans mereka rela memodali beli album dan tiket konser mereka karena lagu-lagunya yang parents-friendly. 😛

Di era ini bisa dibilang boyband barat ga segitu booming-nya dibanding era sebelumnya, walaupun nama-nama seperti O-Town, Dream Street, A1 dan Blue sempat mencuat. Di saat ini pula muncul nama-nama boyband keluaran Asia (Taiwan, Jepang & Korea) seperti F4, Energy, H.O.T, Hey! Say! JUMP, dan lain-lain. Gaungnya tentu saja tidak bertahan lama seperti boyband-boyband “barat” di atas.

 

2010, The Boybands Return

Tiba-tiba muncullah serangan boyband dari Jepang dan Korea Selatan seperti Shinhwa, TVXQ!, Arashi, Exile, Super Junior, Big Bang, 2PM, Hallyu, dan banyak lagi. Jumlah personil yang relatif terlalu rame untuk sebuah grup vokal, koreografi yang nampaknya dinomorsatukan di atas kemampuan vokal, pemilihan lagu yang cenderung tidak terlalu memerlukan skill suara, kostum glamor dan berkesan seragam mungkin membuat kita yang terbiasa dengan “syarat-syarat” boyband, mengernyitkan dahi. Boyband yang tadinya mengawali karir di usia “boys” pun sudah dikesampingkan dengan kecanggihan teknologi, plastic surgery yang mudah ditemukan di Korea berandil besar untuk ‘memudakan’ umur. Penggunaan efek vokal dengan “Autotune” a la Cher di lagu Believe atau hits electronic music milik Daft Punk yang mulai ‘dihalalkan’ pada lagu pop pun cukup ‘membantu’. Trend boyband Asia ini pun cukup heboh di Indonesia sehingga muncullah SM*SH, XO-IX, HITZ, MAX 5, Dragon Boyz, NSG Star dan seabrek nama lainnya yang membanjir deras, baik yang masih bertahan atau cuma numpang lewat doang.

Fenomena boyband “baru” ini ternyata tercium juga di daerah asalnya, Amerika & Eropa. Lance Bass, mantan personil *NSYNC tiba-tiba memposting video dari grup vokal muda binaannya, dengan musik boyband old-skool, namun dandanan ke-Korea-Korea-an, dengan nama Heart2Heart , seperti diduga, kemunculan grup yang tidak pernah rilis album maupun konser ini hanya bertujuan parodi belaka.

Serunya lagi, para dedengkot sejarah boyband dunia pun tiba-tiba muncul ke permukaan.

Dua boyband terbesar di masing-masing era 80-an dan 90-an pun bergabung, dan menggebrak kembali dibawah nama NKOTBSB, yup, bener, singkatan dari New Kids On The Block dan Backstreet Boys. Mereka mengadakan tour kolaborasi tersebut di mana-mana, dan dampak positifnya, album mereka secara sendiri-sendiri pun sebagai NKOTB dan BSB ikut terdongkrak promosinya.

Robbie Williams yang sudah sukses berat sebagai soloist, kembali bergabung dengan Take That untuk satu album plus rangkaian promo-tour-nya. (Meskipun setelah tour itu TT, selain Robbie kembali ke jalannya, Jason Orange pun hengkang dari grup meninggalkan 3 member lainnya merilis album sebagai trio).

Justin Timberlake yang juga sudah mapan di karir solo-nya, memberi surprise pada penampilannya di VMA (Video Music Award) 2013. Di tengah-tengah medley lagu-lagu hit-nya pada performance berdurasi cukup panjang itu, dia menghadirkan anggota gengnya, JC Chasez, Joey Fatone, Chris Kirkpatrick dan Lance Bass untuk bersama-sama bernostalgia menyanyikan hits mereka semasa masih di *NSYNC.

Boyband (barat) lawas lainnya pun memanfaatkan moment ini untuk reunian. Tercatat nama-nama seperti 3T, Five (walaupun cuma berempat), 911, Blue, A1 dan Damage secara keroyokan berpartisipasi dalam event konser “The Big Reunion Tour”.

Selain nama-nama lama, ada pula nama-nama baru yang terlihat menentang ‘virus’ boyband Korea ini, seperti One Direction dan The Wanted asal Inggris. Sayangnya, mencoret ‘koreografi’ dari daftar tugas mereka sebagai boyband tidak didukung oleh skill vocal yang membuat orang merasa “there’s something missing”.  Sedangkan, boyband era 2010-an sampai saat sekarang yang bisa diperhitungkan seperti JLS, Connected dan New Bounce (Inggris), IM5 (USA) dan Capree (Australia) ga terlalu dikenal.

Di Indonesia, satu-satunya boyband yang terasa ‘menentang’ trend boyband Korea ini, gue lihat sih cuma satu. “Persyaratan” menjadi boyband pun dilengkapi; memulai karir grupnya di usia praremaja, skill vokal dinomer-satukan dan berani tampil live baik dengan musik atau acapella, dan koreografi secukupnya hanya sebagai pendukung lagu, produser Patrick Effendy nampaknya cukup jeli & serius mengonsepkan boyband bernama Coboy Junior ini (di-adaptasi dari nama Coboy, boyband 90-an). Lebih dari itu, Patrick pun memikirkan character building personilnya, Teuku Ryzki sebagai si “big brother”, Alvaro Maldini si “dandy”, Iqbaal Dhiafakhri si “nice boy” dan Bastian Steel si “bad boy”. Tak heran dengan kematangan ide ini, walaupun ditinggal satu personilnya, karir mereka tetap berjalan mulus dengan nama CJR.

 

Ditulis oleh: rappy

 

Comments

comments