Masih teringat dengan jelas ketika bel istirahat pertama berbunyi, segera saya menghampiri gerbang sekolah untuk memesan makanan kesukaan saya di pagi hari. Seorang bapak tua dengan pakaian hitam-hitam khas Betawi, lengkap dengan selempang sarung dan penutup kepala, sudah siap menanti para langganan dengan duduk di atas bangku kayu kecil di samping pikulan bambu dan guci tanah liat.

Tumpukan arang membara memanaskan guci sehingga aroma isi guci tersebut sudah bisa tercium dari jarak beberapa meter. Puluhan bungkus nasi putih bertabur bawang goreng pun sudah disiapkan di atas pikulan tersebut, terbungkus rapi dengan daun pisang.

Soto tangkar adalah soto khas Betawi dan sekitarnya, sampai dengan Karawang dan Bogor. Berbeda dengan soto Betawi, soto tangkar memiliki bumbu yang lebih beraneka ragam. Kuah yang berwarna kuning kemerahanlah yang membedakan soto tangkar dengan soto Betawi. Kuah dari soto Betawi sendiri hanya berwarna kuning.

Kata tangkar itu sendiri dalam bahasa Jawa artinya sisa tulang iga dan paha, yang pada jaman dahulu merupakan sisa-sisa tulang sapi/kambing yang dagingnya telah diambil oleh orang Belanda dan sisanya diberikan kepada rakyat jelata. Rakyat jelata ini kemudian memikirkan bagaimana cara mengolah sisa-sisa tulang ini supaya masih bisa dinikmati pula oleh mereka. Maka akhirnya terciptalah bumbu soto tangkar yang rasanya dahsyat ini.

Sayangnya di jaman sekarang sudah sangat sulit, bahkan hampir tidak mungkin menemukan pedagang keliling soto tangkar yang masih menggunakan pikulan tradisional dengan guci tanah liatnya yang autentik ini. Padahal salah satu rahasia kenikmatannya terletak di peralatan tradisional yang masih digunakan untuk memasak.

Dalam hal ini tanah liat tidak bisa digantikan oleh stainless steel, daun pisang tidak bisa digantikan oleh plastik, lumpang batu kali tidak bisa digantikan oleh blender dan yang pasti keringat tidak bisa digantikan oleh teknologi. Jangan-jangan salah satu bumbu penyedap rahasia dari masakan nikmat yang sering kita santap adalah keringat dari si pembuatnya. Bahkan ada joke di kalangan pewisata kuliner yang mengatakan semakin jorok tempat berjualannya maka semakin nikmat sajiannya, hahaha!

Foto: Koleksi pribadi

Comments

comments