(Ini merupakan tulisan lama Nicko Krisna, yang dia ulas untuk areamagz.com pada tahun 2010. Namun, tim redaksi merasa apa yang dibahas termasuk dalam kategori artikel timeless. Jadi, kami sajikan lagi di website tercinta ini. Selamat membaca!)

Promoter NowadaysKehadiran pemain baru di bisnis music event organizer (EO), seperti Mahaka Production, membuat bidang ini semakin marak warna pelbagai genre musik.
Gebrakan mereka terhitung berani. Setelah mencoba untuk tidak rugi di uji coba pertamanya dengan mendatangkan Pussycat Dolls, EO ini berhasil menghenyakkan publik pengagum musik ‘pintar’, saat mengundang musisi eksentrik asal London, Imogen Heap ke Jakarta, 31 Maret 2010 lalu. Seperti kalap dan tidak mau kalah oleh para pendahulunya, kejutan selanjutnya dari ME adalah pahlawan gitar 90-an, mantan gitaris Guns N’ Roses (band terbaik sekaligus terbesar di dunia versi saya), Slash! Rencananya, gitaris kontroversial ini akan bermain di Istora Senayan tanggal 3 Agustus 2010.

Sementara itu, sang promotor ulung yang hentakannya selalu ditunggu-tunggu penikmat musik segala usia, Mr. Adrie Subono, tetap konsisten dengan keberagaman selera musiknya yang selalu membawa band dan solois dari berbagai kelas. Tranparansinya dalam mengemukakan hasil negosiasinya dengan artis-artis luar ke dalam status Twitter-nya, benar-benar mengubah paradigma tentang seorang pebisnis kelas kakap. Misalnya, kegagalannya saat mencoba mendatangkan John Mayer diungkap di statusnya. Ini merupakan kejujuran yang bisa mendatangkan empati sekaligus simpati. Positifnya, dia tidak perlu melakukan promosi secara jor-joran. Karena, hanya dengan cara menaruh keluh-kesah dan perasaan senang tentang kegiatannya sebagai seorang promotor di Twitter, followers-nya yang berjumlah ratusan ribu sudah bisa mendapatkan info yang lebih intim. Dan, Adrie sadar benar akan hal tersebut. Lihat saja, semua billboard Java Musikindo di bagian footer-nya selalu menyertakan akun Twitter-nya.

Sementara itu, pemain lama yang disebut-sebut sebagai pionir music event organizer di negeri ini, Peter Basuki, seperti terengah-engah dan kehabisan nafas. EO kepunyaannya, Buena Production (BP), terlalu berusaha konsisten di jalur ‘mahal’ dan ‘aman’ dengan membawa artis internasional mulai dari yang begitu senior, seperti Natalie Cole, Al Jarreau, George Benson, boyband masa lampau, Backstreet Boys, hingga musisi kontemporer terkini, Sarah Brightman. Namun, ‘barang’ bawaannya itu malah menjadi boomerang bagi Peter. Beliau selalu mematok harga mahal untuk tiket di setiap konser yang diselenggarakan oleh BP, namun tidak ada haru biru yang ‘kena’ di ingatan dari setiap hajatannya tersebut. Bisa jadi, asumsi kalau Peter terlalu sering bawa ‘barang bekas’ atau produk jaman dulu, yang sudah tidak begitu ditanggapi lagi konser-konsernya di luar sana, sudah sangat melekat di pikiran ini. Hingga BP namanya meredup di tengah para pendatang baru. Padahal, Peter merupakan negotiator andal yang berhasil membujuk Deep Purple untuk melakukan konser di stadion Senayan, selama dua hari berturut-turut pada tanggal 4 dan 5 Desember tahun 1975.

Lain hal dengan Hanin Sidharta, director Soundshine Mega Concerta. Pasar yang dia tembak lebih terukur. Pria ini cukup percaya diri dengan mendatangkan band maupun musisi jenius, seperti Phoenix, Kings of Convenience, Club 8, Sondre Lerche dan Jens Lekman. Dengan harga tiket yang masuk akal, setiap event yang diadakan Soundshine sanggup memboyong rombongan loyalis untuk memenuhi setiap gelarannya. Stabil.

Isu-isu yang dihembuskan para promotor musik ini terkadang seperti magnet yang mampu menyedot alam pikiran kita untuk selalu berharap agar menjadi kenyataan. Dua tahun yang lalu, sempat tersiar jika Smashing Pumpkins akan dibawa Java Musikindo, namun hal itu tidak pernah terjadi hingga hari ini. Dan, orang-orang yang terbiasa menyaksikan konser berskala internasional pun kecewa. Terutama mereka para kaum urban Jakarta. Promotor tersebut sudah seperti berhala. Tersirat dari harapan-harapan orang yang selalu merengek-rengek terhadap Adrie Subono, agar dia bisa merealisasikan impian orang banyak, untuk mendatangkan band maupun musisi kegemaran mereka.

Di lain tempat, Peter Gontha, dengan bendera Java Festival Production(JFP), sudah berhasil melakukan mission impossible-nya, Java Jazz. Mungkin 20 tahun yang lalu, jika ada seorang promotor yang sesumbar terhadap media, untuk mengumpulkan artis dalam dan luar negeri dalam sebuah event, akan dicerca sebagai orang gila yang keseringan mengkhayal. Tapi kenyataannya, Peter sanggup melakukan hal tersebut, secara berulang-ulang pula! Tetap gila, kan? Bagaimana tidak gila, The Manhattan Transfer, Baby Face, John Legend, Tony Braxton dan kelompok maupun musisi jazz lokal dari berbagai kelas, bisa dikumpulkannya dalam festival musik tersebut. Tidak tanggung-tanggung, dia juga melahirkan kembali adik-adik Java Jazz, yakni: Soulnation dan Java Rockin’land. Yang pertama disebut merupakan ajangnya para musisi hip hop serta soul berskala internasional maupun nasional berpadu, sementara yang terakhir adalah festival musik rock, dengan line-up artis luar plus dalam negeri yang masuk dalam kategori cutting edge, yang baru pertama kali diadakan tahun 2009 dan bisa mengumpulkan band-band luar favorit jaman dulu seperti Mr. Big, Third Eye Blind, hingga yang terkini, MEW.

JFP sudah berhasil mengeksekusi festival Java Jazz selama lima tahun berturut-turut. Ini merupakan kebanggaaan tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk pencitraan konsistensi yang baik terhadap negara lain, karena Jakarta, sebagai ibukota, sanggup memberi rasa nyaman bagi para musisi luar, saat mereka beraksi di sini.

Ada juga Solucite yang konsisten di jalur musik keras. Terakhir mereka baru saja mendatangkan band horror punk asal New Jersey, Misfits. EO ini dikenal dengan keteguhannya untuk tetap berada di garis metal, nampak dari semua band yang mereka bawa ke Indonesia, seperti: Kreator, Pukelization, Dragon Force, Helloween, As I Lay Dying, Lamb of God hingga Arch Enemy. Lihat juga pengaruh Tommy Pratama yang mulai melakukan bisnis ini sejak tahun 1991 ketika dia sanggup membawa TOTO untuk tur keliling Indonesia, di bawah perusahaannya yang bernama Original Production (OP). Hal itu sanggup membuat orang-orang mulai melirik bisnis ini sebagai industri yang profitnya bisa dipertanggungjawabkan. OP juga pernah membawa duo pop romantis legendaris, Air Supply, solois brilian, Michael Franks dan band hardrock papan atas 90-an, Extreme. Rencana selanjutnya, pria ini akan mengadakan konser solois masa lampau yang karirnya sudah redup, Michael Bolton dan band yang sempat dikira telah punah, Living Colour.

Masing-masing promotor mempunyai ciri khas. Ada yang bunglon, yaitu Adrie Subono, ada yang senang membawa produk ‘basi’, yakni Peter Basuki, ada yang setia dengan jalur yang sama, yaitu Solucite, ada yang ‘angot-angotan’ seperti Tommy Pratama dan Nepathya, dan ada yang begitu konsisten seperti Peter Gontha. Yang terpenting adalah semangat mereka demi industri hiburan bangsa tercinta ini dengan membujuk band, musisi maupun solois internasional, agar mereka mau melakukan pertunjukan di Indonesia sehingga bisa memberikan kesempatan bagi orang Indonesia untuk bisa melihat band favoritnya tampil di depan mereka.

Comments

comments