Pasti Brur & Zus sudah tidak asing lagi dengan cerita cinta Cinderella, Rapunzel, Putri Salju atau Pangeran Katak, dongeng dari Jacob & Wilhelm Grimm alias Grimm Bersaudara, kan yaaa?

Mari saya ingatkan kembali dalam versi yang paling banyak diingat orang…

Yang khas dalam cerita Cinderella: ibu dan saudara-saudara tirinya yang jahat, Ibu Peri, sepatu kaca dan pukul 12 malam. Berkat keajaiban yang diberikan oleh Ibu Peri, Cinderella bisa hadir di pesta dansa istana dengan gaun yang sangat indah, lengkap dengan sepatu kaca, sampai ibu dan kedua saudara tirinya yang jahat tidak mengenalinya sama sekali. Cinderella berdansa dengan Pangeran hingga larut malam dan ketika jam berdentang 12 kali, dia melarikan diri dengan terburu-buru hingga menjatuhkan sepatu kacanya di tangga istana. Pangeran memungutnya dan membawa sepatu itu ke seluruh penjuru negeri untuk dicoba oleh kaki para gadis, namun pada akhirnya hanya kaki Cinderella yang benar-benar pas. Cinderella dibawa ke istana dan menikah dengan Pangeran. Mereka pun hidup bahagia selama-lamanya.

Berbeda dengan Cinderella, Rapunzel adalah seorang gadis cantik bersuara merdu yang dikurung oleh penyihir di atas menara di tengah hutan tanpa tangga atau pintu dan hanya ada sebuah jendela kecil di atasnya. Ketika penyihir ingin masuk, dia tinggal berdiri di bawah dan berteriak, “Rapunzel, Rapunzel! Turunkan rambutmu!” Maka Rapunzel akan menurunkan rambutnya yang sangat panjang ke bawah dan penyihir akan memanjatnya. Ketika pangeran berkuda sampai ke tengah-tengah hutan, melihat menara yang tinggi dan mendengar nyanyian merdu Rapunzel, dia langsung jatuh cinta sehingga setiap hari dia pergi ke menara untuk mendengarkan. Suatu saat, ketika dia melihat penyihir muncul dan mendengarkan setiap kata yang diucapkan, dia pun menirunya sehingga kemudian dia bisa menyelamatkan Rapunzel, membawanya ke istana dan menikahinya serta hidup bahagia selama-lamanya.

Dalam cerita Putri Salju, setelah Sang Ratu meninggal setelah melahirkan Putri Salju-seorang anak yang kulitnya seputih salju, bibir semerah darah dan rambut sehitam kayu eboni-Raja menikah lagi dengan perempuan yang sangat cantik, namun sombong dan sewenang-wenang, serta tidak rela jika ada seorang pun yang melebihi kecantikannya. Dia punya cermin ajaib yang bisa bicara dan ketika cermin tersebut berkata bahwa Putri Salju lebih cantik darinya, dia menyuruh pemburu untuk membawa Putri Salju ke hutan, membunuhnya dan membawakan hatinya sebagai bukti. Karena tidak tega, pemburu akhirnya melepaskan Putri Salju dan mengambil hati beruang muda yang kemudian dimasak dan dimakan oleh Ratu. Putri Salju yang ketakutan di tengah hutan akhirnya menemukan sebuah pondok kecil milik tujuh kurcaci pencari tembaga dan emas. Dia pun diizinkan tinggal di sana. Di kemudian hari Ratu yang akhirnya tahu bahwa Putri Salju masih hidup, menyamar menjadi nenek-nenek dan memberikan apel beracun pada Putri Salju. Saat memakannya Putri Salju langsung terjatuh dan akhirnya para kurcaci membaringkannya di peti mati kaca selama bertahun-tahun, tidak bergerak, terlihat seperti masih hidup dan hanya terlelap saja. Seorang Pangeran yang sedang berkelana langsung jatuh cinta melihat kecantikan Putri Salju dan kemudian menciumnya, sehingga kemudian Putri Salju terbangun. Pangeran membawanya ke istana dan mereka menikah, lalu hidup bahagia selama-lamanya.

Dalam kisah Pangeran Katak, seorang Putri suka melontarkan bola emas ke udara, lalu menangkapnya lagi. Suatu saat, bola itu jatuh ke mata air yang begitu dalam dan Sang Putri akan mengabulkan permintaan bagi siapa pun yang bisa mengambilkan mainan kesukaannya itu. Seekor katak ajaib yang bisa bicara berhasil mengambilkan bola tersebut dan saat Putri menciumnya sebagai imbalan, katak itu berubah menjadi Pangeran tampan. Pangeran itu bercerita bahwa dia telah dikutuk oleh seorang peri yang jahat. Akhirnya Pangeran itu membawa Putri ke istana dan mereka pun menikah dan hidup bahagia selama-lamanya.

Meski dilabeli “Dongeng Anak”, namun dongeng-dongeng lisan yang kemudian dikumpulkan dan dicetak oleh Grimm bersaudara di tahun 1800-an ini dikritik banyak orang karena dinilai terlalu kejam, sehingga tidak cocok untuk anak-anak. Dalam cerita Cinderella, saudari tiri tertua memotong ibu jarinya supaya kakinya bisa masuk ke dalam sepatu dan kaki saudari tiri lainnya diremas oleh ibunya sampai remuk hingga sepatunya bisa muat. Tipu daya keduanya diketahui oleh Pangeran melalui nyanyian burung merpati yang memperingatinya. Burung-burung merpati ini jugalah yang membantu Cinderella mendapatkan gaun dan sepatu yang terbuat dari emas (bukan kaca), sementara kehadiran Ibu Peri dan jam 12 malam adalah versi Disney yang di kemudian hari lebih dikenal.

Versi Grimm bersaudara juga mengisahkan mengenai Pangeran yang berkali-kali naik ke menara berkat bantuan rambut Rapunzel yang di kemudian hari digunting oleh penyihir yang akhirnya mengetahui keberadaan Pangeran. Dia membuang Rapunzel ke tempat terlantar dan kering yang membuat Rapunzel hidup menderita. Saat Pangeran kembali dan tidak menemukan Rapunzel tapi malah disambut oleh penyihir yang memberitahu bahwa Rapunzel telah hilang, dia pun loncat dari menara. Meski selamat, namun matanya buta oleh semak-semak dan dia tersesat di hutan selama bertahun-tahun. Dia tidak makan apapun selain akar-akaran dan buah berry serta hidup sengsara meratapi Rapunzel. Tapi di kemudian hari dia tiba di tempat Rapunzel ketika mendengar suara merdu yang dikenalinya. Saat bertemu Pangeran, Rapunzel menangis dan air matanya menyentuh mata Pangeran sehingga Pangeran bisa melihat lagi dan akhir cerita sangat mudah ditebak. Pangeran membawa Rapunzel ke istana dan hidup bahagia selamanya.

Dalam versi asli Snow White alias Putri Salju, Ratu yang jahat dipaksa untuk menari dalam sepatu besi yang panas sampai mati. Sebelumnya Ratu menyamar menjadi seorang perempuan tua dan mengunjungi Putri Salju sebanyak tiga kali. Kunjungan pertama dia menjual pita korset dan saat memasang pitanya dengan sangat ketat, Putri Salju sesak napas dan jatuh pingsan. Kunjungan berikutnya dia menjual sisir beracun dan saat Putri Salju membiarkan perempuan itu menyisir rambutnya, dia pun (lagi-lagi) jatuh pingsan. Percobaan pembunuhan pertama dan kedua berhasil digagalkan oleh para kurcaci. Tetapi saat ketiga kalinya kurcaci pulang di malam hari dan menemukan Putri Salju terbaring di lantai, mereka tidak berhasil menemukan racun penyebab pingsannya. Putri Salju terbangun justru saat potongan apel beracun terlempar dari tenggorokannya waktu pelayan Pangeran tersandung akar pohon dan terjerembab saat memanggul peti mati di bahu mereka (bukan oleh ciuman fantastis dari Pangeran). Apa yang akan dilakukan Pangeran dengan tubuh Putri Salju mungkin sedikit banyak mirip dengan dongeng Putri Tidur versi asli: “ditiduri” oleh Pangeran berkali-kali dan belum sadarkan diri hingga melahirkan dua anak (cerita lengkap, klik: http://listverse.com/2009/01/06/9-gruesome-fairy-tale-origins/).

Dalam dongeng “Pangeran Katak”, perubahan Katak menjadi Pangeran bukan juga disebabkan oleh sebuah ciuman (heran, kok ya doyan banget menyisipkan “magical kiss” dalam dongeng?), melainkan karena dengan terpaksa Putri membolehkannya tidur di atas tempat tidurnya selama tiga malam, sehingga melenyapkan kutukan dari peri jahat. Putri yang tadinya mengira sang Katak tidak akan bisa mengambilkan bolanya, terpaksa menepati janjinya dan mengijinkannya tinggal bersama di istana.

Dongeng-dongeng “para princess” yang jadi favorit untuk difilmkan oleh Disney ini, biasanya memang berakhir bahagia dengan quote khasnya “…and they live happily ever after”. Sosok putri-putri semacam Cinderella, Rapunzel dan Putri Salju biasanya selalu digambarkan sebagai seorang perempuan yang lemah tak berdaya dan menunggu diselamatkan oleh “prince charming” yang identik dengan “a knight in shining armour“. Dan memang, putri mana yang tidak akan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan penyelamatnya yang tampan, gagah, pemberani dan pangeran pula. Seolah ditakdirkan untuk hidup bersama dan menjadi pasangan serasi, secara fisik putri-putri ini juga digambarkan mempunyai bentuk tubuh yang nyaris sempurna sehingga di kemudian hari menjadi kiblat bagi bentuk tubuh ideal perempuan yang akhirnya membuat produk kecantikan dan pelangsing tubuh semakin laris di pasaran.

Dongeng-dongeng tersebut merupakan refleksi cara hidup pria memandang dunia di masa itu, sehingga seorang James Finn Garner (ya betul, yang ini juga pria, tapi kelihatannya dia pria feminin) memutuskan untuk memberi makna baru dan membebaskan dongeng-dongeng klasik tersebut dari pakem aslinya. Dongeng-dongeng klasik yang dinilainya sexist, penuh diskriminasi dan tidak peka terhadap masalah-masalah perempuan dimodifikasi dan disesuaikan dengan zaman modern dalam sebuah buku Politically Correct Bedtime Stories yang diterbitkan di tahun 1994. Buku ini menjadi bestseller di masanya dan hal tersebut wajar saja, karena meski tebalnya hanya 108 halaman tetapi isi ceritanya unik dan menggelitik sehingga meninggalkan kesan mendalam.Princess4

Lihat saja salam Peri (dalam cerita ini adalah seorang laki-laki) saat pertama kali bertemu Cinderella, “Halo, Cinderella! Aku ini wakil peri penjagamu, atau wakil dewa pelindung jika kau lebih menyukai istilah itu. Kau rupanya ingin datang ke pesta itu, ya? Dan mengabdikan dirimu pada konsep lelaki tentang keindahan? Memaksakan tubuhmu ke dalam gaun ketat yang menghambat aliran darahmu? Menjejalkan kakimu ke dalam sepasang sepatu bertumit tinggi yang mengakibatkan rusaknya struktur tulangmu? Memoles kulit wajahmu dengan bahan-bahan kimia dan make-up yang sebelum dipasarkan telah dicoba efeknya pada binatang?”

Uniknya, di akhir cerita Cinderella dan ibu serta saudari-saudari tirinya mendirikan “CinderWear”, produsen pakaian praktis dan nyaman bagi perempuan di istana Pangeran, setelah Pangeran dan semua bangsawan mati karena saling berkelahi memperebutkan Cinderella.

Dalam cerita “Rapunzel”, penyihir mengurung Rapunzel di sebuah menara dan mengajarinya menyanyi selama bertahun-tahun sehingga suaranya sangatlah merdu. Namun saat Pangeran datang ke menara dan berembuk dengan penyihir tentang urusan kontrak rekaman dan ide-ide pemasaran termasuk boneka-boneka “Rapunzel” lengkap dengan “Menara Nada” mini dengan sistem stereo, Rapunzel merasa muak karena selain selama bertahun-tahun rambutnya dimanfaatkan untuk kepentingan transportasi, kini ditambah dengan suaranya yang akan dimanfaatkan juga. Maka saat Pangeran dan Penyihir masih berdebat soal royalti dan persentase, Rapunzel kabur dan di kemudian hari dia mendirikan yayasan nirlaba untuk penyebarluasan musik secara cuma-cuma. Dia juga memotong rambutnya yang panjang dan melelangnya untuk mengumpulkan dana dan sepanjang hayatnya menyanyi tanpa meminta bayaran di kedai-kedai kopi dan galeri-galeri seni.

Dalam dongeng “Putri Salju”, saat Sang Ratu menyamar menjadi nenek tua dan memberikan apel pada Putri Salju, tiba-tiba saja dia menangis terisak-isak karena iri pada kulit Putri Salju yang halus dan tubuhnya yang langsing. Karena iba, akhirnya Putri Salju berbagi rahasia kecantikannya, yaitu dengan bermeditasi, melatih kondisi jasmani dengan latihan aerobik tiga jam sehari dan hanya makan separuh porsi makanan. Sampai akhirnya muncul suatu kejadian saat Ratu dan Putri Salju secara tidak sengaja memakan apel beracun tersebut sehingga tubuh mereka kaku, tapi masih bisa mendengar percakapan antara ketujuh kurcaci dan Pangeran yang sedang melakukan tawar-menawar mengenai tubuh mereka yang akan dipajang untuk pusat terapi lemah syahwat bagi para pria. Namun begitu kedua tubuh itu diangkat, potongan apel beracun terlontar keluar dari mulut Ratu dan Putri Salju sehingga kedua perempuan itu langsung tersadar dari sihir. Ratu merasa jijik ketika mendengar transaksi antara para pria tersebut sehingga dia akhirnya bertobat. Kemudian Ratu dan Putri Salju menjadi sahabat karib dan mereka membaktikan diri mengajarkan kaum perempuan untuk menerima citra jasmani mereka secara alamiah hingga akhirnya mereka meraih ketenaran di seluruh dunia berkat darma bakti mereka. Sementara Pangeran yang bermasalah dengan kejantanannya, tetap tinggal di tempat tetirah kaum perempuan sebagai pelatih tenis yang tampan dan menarik, namun tidak berbahaya. Dan ketujuh kurcaci tidak pernah terdengar kabarnya lagi, meski kadang-kadang ditemukan jejak-jejak kaki berukuran kecil pada pagi hari di atas tanah, di depan jendela ruang ganti pakaian.Princess3-edited

Dan dalam cerita “Pangeran Katak”, saat Sang Putri mencium seekor katak, katak itu malah berubah menjadi developer real estate yang serakah, yang dikutuk oleh penyihir yang ditipunya dalam suatu pertikaian tentang garis-garis batas tanah. Dia bercerita pada Putri bahwa ketika menjadi katak dia tidak menyia-nyiakan wujudnya untuk mengenal baik setiap jengkal tanah di hutan dan bertekad setelah kembali ke wujud manusia hendak membabat habis hutan untuk dijadikan kompleks gedung perkantoran/kondominium/resort. Namun developer mantan katak itu tidak bisa meneruskan ocehannya karena Sang Putri langsung menjejalkan bola emasnya ke mulut lelaki tersebut, kemudian membenamkannya ke dalam air dan menekannya terus-menerus sampai akhirnya lelaki itu berhenti meronta-ronta.

Bukan hanya dongeng mengenai “para princess” dan kehidupan percintaan mereka saja yang digagas ulang oleh Garner. Dongeng-dongeng ala Hans Christian Andersen dan dongeng lainnya tidak luput dari pelesetannya. Dalam “Busana Baru Sang Kaisar”, seluruh rakyat malah melepaskan semua pakaian dan meniru Kaisar mereka yang bugil. Sementara dalam “Jack dan Sulur Buncis”, Jack malah memilih tinggal di atas awan bersama para raksasa karena jauh lebih sedikit pekerjaan yang harus dilakukan, sedangkan bahan makanan lebih dari cukup. Dan dalam cerita “Tiga Babi Kecil”, saat mengerahkan seluruh tenaga untuk meniup rumah babi ketiga yang terbuat dari batu bata, Serigala mencengkeram dadanya dan mati karena serangan jantung akut akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan berkadar lemak tinggi.Princess2-edited

Masih banyak dongeng-dongeng terkenal lainnya yang dipelesetkan oleh James Finn Garner dalam buku mungilnya ini. Tentunya dengan jalan cerita di luar dugaan dan sukses membuat saya terbahak-bahak tanpa henti.

Foto-foto: koleksi pribadi

Comments

comments