Tentunya Brur & Zus masih ingat dengan Popeye the Sailor. Pahlawan fiksi ciptaan Elzie Crisler Segar tersebut telah muncul dalam buku komik dan film animasi serta berbagai acara televisi.  Salah satu karakteristik Popeye adalah memakan bayam agar menjadi lebih kuat. Ternyata popularitas Popeye membantu meningkatkan penjualan bayam: konsumsi yang naik menjadi 33 persen di Amerika Serikat antara 1931 dan 1936 seiring dengan popularitas Popeye yang juga meningkat, menyelamatkan industri bayam pada tahun 1930-an.

Penempatan produk di televisi dan film sudah ada cukup lama. Melihat produk “real life” dalam film membantu untuk memberikan film “rasa realisme”. Biasanya, penempatan produk dilakukan secara halus: kaleng Coke terlihat ketika pintu kulkas dibuka, sekotak Kellogg’s di atas meja sarapan. Namun, ada juga yang disodorkan ke wajah Anda. Beberapa begitu jelas sampai-sampai terkesan sepertinya produser meminta para penulis naskah mengosongkan skenario dan menjual tempat kosong itu kepada penawar tertinggi. Berikut serba-serbi dari beberapa contoh penempatan produk di tahun ’80-an dan ’90-an yang menurut saya menarik untuk dibahas.

Tahun 1986 merupakan tahun terobosan bagi Tom Cruise yang berusia 22 tahun. Dia memimpin sekelompok pilot muda dalam film Top Gun, film terlaris tahun itu. Di film itu dia bermain bersama pemenang Oscar, Paul Newman. Top Gun memiliki dampak besar pada penonton film tersebut. Mengapa? Karena tokoh utamanya tampan dan tidak kenal takut, tidak hanya mengalahkan musuh di udara, tapi juga berhasil memenangkan hati seorang wanita cantik. Dia mengenakan celana jeans, memakai jaket kulit dan kacamata hitam. Dan dia naik sepeda motor dan menerbangkan pesawat jet tempur militer. Awwww

Pada tahun 1983 perusahaan produksi kacamata Ray-Ban membuat kesepakatan penempatan produk dengan produser Risky Business, film box-office besar pertama Tom Cruise. Kesepakatannya sangat sukses dan menghasilkan peningkatan 50% dalam penjualan model Wayfarer. Tiga tahun kemudian Ray-Ban dan Tom Cruise bekerja sama lagi. Kali ini dia dan rekan-rekan angkatan lautnya mengenakan Aviator. Hasilnya: penjualan kacamata hitam Aviator naik 40 persen dalam tujuh bulan setelah filmnya dirilis . Ini salah satu contoh klasik dari penempatan produk yang sukses.

(From Google Images)

Pada pertengahan tahun ’90-an, Apple Computer (sekarang Apple, Inc.) menghadapi krisis. Sangat sedikit orang yang membeli komputer mereka dan Apple perlu image positif dari publik. Jadi, pada tahun 1996, mereka menempatkan komputer mereka di layar perak di dalam tidak hanya satu, tapi dua film blockbuster. Dalam Mission: Impossible, Tom Cruise menggunakan PowerBook untuk berkomunikasi dengan penjahat dan akhirnya berhasil menyelamatkan reputasinya. Dalam Independence Day, Jeff Goldblum menggunakan PowerBook untuk menanam virus komputer mematikan di kapal induk alien yang menyerang.

(From Google Images)

(From Google Images)

Kadang-kadang sebuah brand dimasukkan ke dalam film tanpa izin dari perusahaan induk. Itu yang terjadi dalam The Gods Must Be Crazy, film produksi Afrika Selatan tahun 1980 yang melibatkan botol Coca-Cola. Pihak Coca-Cola belum dihubungi oleh sutradara Jamie Uys ketika dia memiliki ide untuk menggunakannya dalam film.

Suatu hari botol Coca-Cola jatuh dari langit dan jatuh di dekat Xi. Keluarga Xi menemukan kegunaan untuk botol itu, tapi akhirnya botol Coke tersebut menyebabkan ketidakbahagiaan. Jadi, Xi memutuskan bahwa botol itu jahat dan harus dibuang dari ujung dunia. Dia berkelana dan bertemu peradaban Barat untuk pertama kalinya. Meskipun botol Coca-Cola ditampilkan sebagai sesuatu yang jahat, positifnya film tersebut tidak merusak citra brand Coca-Cola.

(From Google Images)

Masih terkait cola, perang cola sedang panas dan marak terjadi pada tahun 1985 ketika Back to the Future dirilis. Pepsi menang dan untuk memanfaatkan momentum, mereka ditampilkan sangat banyak dalam film ini. Bahkan ada adegan di mana karakter Michael J. Fox, Marty McFly, mendatangi kafe tahun 1955 dan memesan Pepsi Free, minuman diet Pepsi.

Namun, ada juga penempatan produk yang tidak berjalan sesuai kesepakatan, seperti penempatan produk Reebok dalam film box-office tahun 1997 Jerry Maguire. Awalnya, Tristar Pictures dan Reebok mencapai kesepakatan yang menyatakan bahwa merek Reebok harus ditampilkan secara positif dalam film. Ternyata sepanjang  film, karakter Rod Tidwell, yang diperankan Cuba Gooding, Jr,  menyimpan dendam terhadap Reebok karena Reebok tidak menggunakan dirinya dalam iklan mereka. Tristar Pictures dan Reebok sepakat bahwa pada closing credit, akan ditampilkan iklan Reebok palsu. Iklannya harus mengatakan: “Rod Tidwell. Kami mengabaikannya selama bertahun-tahun. Kami salah. Kami minta maaf.” Namun, iklan itu dipotong dan Reebok menggugat TriStar Pictures. Mereka akhirnya mencapai penyelesaian di luar pengadilan, diyakini sebesar sekitar $10 juta.

Kembali pada pembahasan di awal tentang Popeye the Sailor. Menurut sebuah penelitian tahun 2010, anak-anak dapat meningkatkan konsumsi sayuran mereka setelah menonton kartun Popeye. Jadi, untuk Brur & Zus yang kesulitan membuat anaknya mengonsumsi sayuran, tidak ada salahnya memperkenalkan kartun Popeye the Sailor, sama halnya dengan ketika kita kecil dibujuk oleh orangtua makan bayam agar kuat seperti Popeye. 🙂

 

 

 

Comments

comments