Olympic Stadium, Munich, 25/6/1988

Rinus Michels dan staff-nya terlihat cemas di detik-detik akhir pertandingan. Meski pasukannya unggul dua gol lewat tandukan Gullit Sang Kapten dan sepakan ajaib Van Basten, dia tetap tak bisa tenang. Trauma 14 tahun sebelumnya rupanya belum hilang dari memori Mr. Sphinx; tampil memukau sepanjang turnamen namun kemudian menjadi “pecundang”. 

Trauma di Tanah Bavaria itu masih membekas di hati dan pikiran masyarakat Belanda sampai dengan saat penyelenggaraan Piala Eropa 1988. Di kejuaraan ini Belanda bukan apa-apa, tidak diperhitungkan meski menyandang nama besar sebagai penemu dan pemilik sah Total Football.  Mereka masih kalah pamor dari tim-tim lain seperti Inggris, Italia, Uni Soviet, apalagi tuan rumah Jerman Barat yang diunggulkan keluar sebagai juara. 

Di dalam squad hanya nama Ruud Gullit dan Ronald Koeman yang “terdengar”, sementara yang lainnya (termasuk Marco Van Basten) tidak lebih dari sekadar pelengkap. 

holland-1988

Fakta di lapangan hampir membenarkan prediksi para pengamat. Pada pertandingan pertama penyisihan grup, Oranye menyerah 0–1 dari Uni Sovyet, kekalahan yang nyaris mendatangkan trauma baru. Namun Oranye tidak menyerah, predikat sebagai penemu dan pemilik sah Total Football memacu semangat mereka, perubahan taktik pun dilakukan. Marco Van Basten yang di pertandingan pertama hanya tampil dari bangku cadangan diturunkan sebagai starter, Gullit menjadi tandem. The Black Tulip bergerak bebas, liar membuka pertahanan lawan. Hasilnya luar biasa, Tiga Singa dihadiahi 3 gol berbalas 1 dari Bryan Robson. 

Di semifinal mereka berhadapan dengan tuan rumah Jerman Barat yang tampil “galak” di penyisihan grup. Jerman Barat unggul terlebih dahulu lewat penalti Matthäus sebelum disamakan (juga lewat penalti) Ronald Koeman. Di menit-menit akhir pertandingan, Van Basten tampil sebagai pahlawan Sentuhan ajaibnya bersarang mulus di gawang The Bavarian. Belanda menang 2-1 atas musuh bebuyutannya, hutang 14 tahun dibayar lunas. Peluit akhir ditiup, usai sudah penderitaan Rinus. Dia mengangkat tangan, memeluk staff-nya sembari sesekali menutup wajah seperti tidak percaya. Di lapangan, dua aktor penentu kemenangan Belanda berpelukan erat sementara yang lainnya melompat kegirangan. 

Ya, Belanda akhirnya memperoleh pengakuan. Gullit mewakili rekan-rekannya mengangkat trophy internasional pertama bagi negaranya, setelah mengalahkan Uni Soviet di final dengan skor 2-0. Marco “The Swan” Van Basten meraih predikat top scorer dengan 5 gol, 3 di antaranya bersarang di gawang Tiga Singa yang saat itu dijaga oleh kiper legendaris mereka, Peter Shilton. Tahun itu De Oranje menuntaskan dendam selama 14 tahun, mereka  menjadi juara di Tanah Bavaria dengan elegan, dengan totalitas. HUP HOLLAND HUP!

Comments

comments