Nicko Krisna: Nostalgia Era ‘80 & ‘90: Wawancara Area Magz.

Founder Hits from the 80’s & 90’s Nicko Krisna diwawancarai oleh free magazine Area. Berikut petikan wawancaranya (sumber online asli ada di sini):

Nicko Krisna: Nostalgia Era ‘80 & ‘90

Martin Johnindra bertemu sang penggagas grup Facebook Hits from the 80’s & 90’s. Bermula dari sekadar iseng, ternyata ia menuai kesuksesan. Sebuah buku berjudul Hits from the 80’s & 90’s yang siap membawa Anda bertualang ke masa itu juga telah dilansir olehnya.

Sayang, beberapa waktu setelah wawancara ini dilakukan, grup yang tengah hangat dan memiliki anggota hingga 140.000 orang itu di-hack. Setelahnya, ia pun langsung membuat grup baru dengan nama Brur & Zus yang tak kalah menarik. Mari simak obrolan mereka.

Mengapa Anda memilih era ’80-an dan ’90-an? Apa keistimewaan dari dua era tersebut?
Hal yang paling istimewa adalah musik. Selama tiga tahun belakangan ini, saya selalu membuat event  disko ‘80-an dan ‘90-an. Era tersebut merupakan sebuah era organik sekaligus analog yang paling menarik untuk dibahas. Nah, buat sebagian orang, era tersebut merupakan dekade ternorak. Namun, untuk saya, era tersebut merupakan zaman keemasan bagi dunia fashion, musik, bahkan tata kramanya juga bagus. Tampilan menariknya seseorang juga masih murni. Di era tersebut, orang-orang lebih sering berkegiatan di luar rumah ketimbang dengan gadget. Jadi, dua era itu merupakan masa yang paling keren menurut saya.

Menurut Anda, dalam dua era tersebut, manakah yang paling menarik, culture dari Indonesia atau luar negeri?
Keduanya sama-sama menarik. Saat era ’80-an, siapa, sih, yang enggak tertarik untuk menghabiskan waktu sorenya di Aldiron? Mulai dari Lipstick, Happy Day, main sepatu roda, lalu disko siang. Kita pergi ke tempat-tempat itu karena ingin hangout sama teman-teman. Tidak ada rasa takut dan beban. Pada masa ’80-an dan ’90-an, Jakarta memang keren sekali. Jakarta Selatan dulu identik dengan Blok M dan Pondok Indah Mall (PIM), sampai-sampai ada sinetron Pondok Indah Mall dan Anak Menteng. Nah, sedangkan di Aldiron, saya ingat kawasan Melawai memang menjadi tempat yang sakral. Mulai dari AHA, KFC, hingga toko-toko kaset di sana, semuanya cult, ya.

Apa tujuan awal Anda membentuk grup Hits from the 80’s & 90’s?
Saya ingin mengakomodasi mereka yang masih belum bisa lari dari bayang-bayang dekade ’80-an dan ’90-an. Sebelum membuat komunitas ini, saya sudah sedikit melakukan survei dan merasa bahwa memang masih ada banyak orang yang memang cinta mati dengan dekade tersebut. Beberapa hari grup  itu dibuat, antusias orang-orang membludak. Anggotanya tidak hanya berasal dari Jakarta saja, tetapi juga dari seluruh Indonesia. Rata-rata kenaikan jumlah anggotanya per hari sebanyak 6.000. Selain itu, mereka juga rajin posting berbagai hal yang berbau dekade ’80-an dan ’90-an. Per menit bisa ada 60 posting-an. Saya juga sudah merasa bahwa jumlah anggota grup ini akan banyak. Itu terbukti. Sampai sekarang, jumlah anggotanya sudah 130.000 orang.

Ada berapa jumlah admin dari grup itu sekarang?
Ada empat orang admin yang aktif. Sisanya membantu untuk menghapus posting-an yang berbau SARA, pornografi, narkoba dan promosi. Grup ini memang sering ditumpangi toko-toko online. Sempat beberapa kali kami beri peringatan bahwa di sini tidak boleh berjualan. Ada yang pernah mengamuk sampai-sampai mengata-ngatai saya diktator. Yang paling parah, grup ini pernah disomasi.

Bagaimana ceritanya saat disomasi?
Sekitar awal November, ada anggota yang bernama Ramdhan, seorang pengacara. Ia mempromosikan acaranya di grup ini dan membuat polling. Isinya, “Siapa yang pantas untuk ikutan acara 80’s dan 90’s yang saya buat?” Seharusnya ia ketuk pintu atau berkenalan dengan saya. Akibatnya, tim admin jadi merasa ia tidak sopan. Akhirnya, oleh salah satu admin, posting-an itu dihapus tanpa sepengetahuan saya dan Ramdhan. Saya curiga ini bakal jadi masalah.  Benar saja. Ramdhan mengajukan surat yang sudah ditanda tangan dan dilegalisasi oleh kantornya lalu mengunggahnya di grup ini. Ia mengajukan surat somasi itu selama 30 hari. Alhasil, grup ini jadi rusuh. Para anggota grup ini langsung nge-bully Ramdhan. Kacau banget gara-gara dalam somasi itu banyak kesalahan penulisan. Misalnya, salah tanggal. Itu terjadi pada 24 Oktober. Nah, Ramdhan menyebutkan 25 Oktober. Sedangkan, ia meminta saya untuk memohon maaf dalam waktu 3×24 jam, baik tertulis maupun tidak. Kalau tidak, saya akan dikenai tindakan yang tidak menyenangkan karena saya telah memasung hak-haknya. Akhirnya, saya telepon Ramdhan. Gayanya otoriter. Saya coba selesaikan dengan baik-baik dan meminta maaf. Saya juga bilang bahwa permohonan maaf saya akan di-posting di grup. Setelah saya minta maaf, ia capture isi pesan (SMS) dari saya dan mem-posting-nya beserta nomor handphone saya. Akhirnya, ada ratusan SMS yang saya terima. Isinya bervariasi, ada yang support, bahkan menanyakan nomor togel, ha-ha-ha. Ada juga orang-orang yang curiga dan menganggap kejadian somasi ini setting-an saya dan Ramdhan untuk mencari popularitas. Saya gemas sekali. Akhirnya, dia malah di-kick oleh pihak Facebook.

Sekarang, kasus itu sudah selesai?
Sudah. Sekarang setengah hari-hari saya tersita untuk mengurusi grup ini bersama dua orang teman supaya bisa memperingatkan yang mau berbuat onar. Banyak orang baru dari seluruh Indonesia dengan berbagai macam karakter.

Grup ini sudah berkembang pesat. Nah, Anda sendiri melihatnya sebagai fenomena apa?
Mungkin orang-orang jenuh dengan pilpres kemarin. Kemunculan grup ini pun jadi seperti oasis.

Kapan pertama kali grup ini muncul?
Pada 29 Agustus 2014. Pergerakannya menakjubkan. Jumlah teman saya di Facebook cuma 1.200-an. Namun, karena ini open group, apa pun yang kami posting pasti dilihat oleh orang lain. Jadi, kalau Anda posting di grup ini dan mendapat ratusan likes, itu biasa saja. Selain itu, grup ini juga menciptakan kopi darat-kopi darat yang lain. Pada saat saya membuat kopi darat pertama, para anggota di Bali, Yogyakarta, Surabaya dan Bandung juga membuatnya. Ada cerita menarik waktu saya datang ke kopi darat kecil-kecilan di KFC di Gunawarman, Jakarta. Waktu itu dikabari oleh temannya teman saya via Whatsapp. Awalnya, saya kira cuma empat atau lima orang yang datang. Ternyata ada 70 orang. Ini seperti mau bikin party. Satu orang pun tidak ada yang saya kenal. Saya pun tanya mereka, apakah sudah pada saling kenal. Mereka jawab belum. Ha-ha-ha.

Mengapa Anda memutuskan untuk merilis buku Hits from the 80’s & 90’s?
Dua minggu setelah grup ini dibuat, ada enam penerbit yang datang. Dari keenamnya, saya pilih penerbit Mediakita. Supaya ideal buat semua, Mediakita memberi masukan agar konten buku ini sebaiknya 50:50 antara perspektif saya dan beberapa thread pilihan di grup.

Kesulitan-kesulitan apa yang Anda rasakan saat menyusun beberapa thread itu?
Ada 144 thread yang dipilih. Saya approach ke para pembuat thread dan meminta izin untuk mem-publish thread dalam bentuk buku. Yang membalas hanya 42 orang. Mereka semua menyambut baik. Akhirnya, pada 8 November kemarin, buku ini dirilis di Pisa Cafe. Buku ini juga sudah ada di seluruh Gramedia di Indonesia.

Bagaimana tanggapan dari orang-orang tentang buku ini?
Positif. Buku ini di-review oleh Pak Raden. Ia senang setelah membaca beberapa part. Seorang penyanyi, Imaniar, juga bilang ke saya bahwa setelah membaca buku ini ia ingin mengenakan kaus Garfield lagi. Ha-ha-ha.

Respon apa yang paling berkesan?
Pak Raden dan Eighter’s (sebutan untuk teman-teman yang datang ke acara launching buku ini) terharu dengan konten-konten buku ini yang berhasil membawa mereka kembali ke era ’80-an dan ’90-an. Rata-rata, mereka mengatakan ingin mewariskan buku ini ke anak-anak mereka. Saya membuat buku ini cuma sebulan, tetapi kualitasnya sangat dijaga, baik hasil tulisan maupun konten-konten pendukung termasuk thread itu tadi. Isi thread pun tidak diubah sama sekali, benar-benar seperti yang ada di grup.

Lalu, apakah Anda akan membuat buku yang lain?
Sebenarnya, ada penerbit lain yang sudah mengajukan kontrak untuk membahas dua era tersebut, tetapi spesifik ke lifestyle, entah itu Duran Duran, fashion ngejreng, pernak-pernik, atau tokoh-tokoh yang berpengaruh.

Apakah ada keinginan untuk membahas politik di Indonesia?
Itu agak menyeramkan untuk saya, buang-buang waktu saja seperti saat disomasi. Itu sebenarnya mengganggu sekali. Mungkin ini baru pertama kali terjadi di Indonesia untuk kasus digital seperti itu. Padahal, ini, ‘kan, grup Facebook, masih ‘abu-abu’. Jadi, kalo menurut Undang-undang Informasi dan Transaksi Teknologi (UU ITE), tanggung jawab grup itu di bawah si pembuat. Jadi, kekuasaan atas grup ini ada pada saya. Kalau ada apa-apa, yah, saya tanggung sendiri. Saya juga sudah memasukkan nama Hits from the 80’s and 90’s ke Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Ini agar aman saja. Banyak pihak yang memakai nama Hits from the 80’s and 90’s untuk acara mereka.

Anda pernah membuat gathering bersama atlet bulu tangkis. Nah, ke depannya apakah Anda akan membuat gathering lagi?
Ya, waktu itu saya diundang untuk jadi pembicara dalam acara sebuah minuman ringan. Selain saya, ada Ricky Subagja dan Rexy Mainaky. Dalam dua bulan terakhir ini, hidup saya yang berubah. Ha-ha-ha. Nanti, saya akan membuat acara kopi darat sekaligus bedah buku di Bogor dan Bandung.

Selama dua bulan dari 29 Agustus sampai sekarang, hal apa saja yang berkesan?
Kejadian paling berkesan adalah kopi darat pertama dan saat grup ini disomasi. Itu momen yang mendebarkan dalam hidup saya. Pokoknya, saya percaya pada kebaikan dan kebenaran. Jadi, saya tidak perlu memakai kekerasan. Apalagi, saya juga sudah meminta maaf.

Hal positif apa yang bisa diambil dari era ’80-an dan ’90-an untuk masa sekarang?
Budaya kopi darat. Ini sebenarnya paling realistis untuk diterapkan di masa sekarang. Untuk anak-anak, perbanyaklah kegiatan outdoor daripada digital activity karena menyehatkan dan lebih murah. Semoga orangtua semakin sering mengajak anak-anaknya bermain di luar rumah atau di taman-taman kota. Ini juga bisa melatih kreativitas anak.

Comments

comments

← Previous post

Next post →

Facebook
Facebook
Follow by Email
RSS