Salah satu momen paling berkesan bagi gue di olahraga basket, khususnya NBA, adalah final slam dunk contest tahun 1988. Bisa dibilang ini adalah slam dunk contest terbaik versi gue. Yang ikutan adalah para mantan juara slam dunk contest tahun sebelumnya, Dominique Wilkins (1985), Spud Webb (1986), dan Michael Jordan (1987). Peserta lainnya ga kalah keren, ada Clyde Drexler, Otis Smith, Jerome Kersey, dan Greg Anderson. Fans sangat menantikan dan berharap pertarungan antara Jordan dan Wilkins terjadi di partai puncak. Mereka pernah berjumpa sebelumnya dalam partai final tahun 1985, yang mana saat itu dimenangkan oleh Wilkins.

Dan harapan serta prediksi para fans terwujud. Setelah partai semifinal yang mempertemukan Jordan, Wilkins, Drexler, dan Smith, akhirnya memunculkan Jordan dan Wilkins sebagai top 2 dan melenggang ke partai puncak. Partai final yang sungguh ketat serta legendaris ini bagaikan pertarungan antara dua petinju kelas berat. Perbedaan nilai yang sangat tipis akhirnya memunculkan Jordan sebagai juara. Hasil ini sempat menjadi kontroversi karena Wilkins merasa dialah seharusnya yang menjadi juara. Dunk-nya yang ke-dua di partai final, menurutnya, layak mendapatkan nilai lebih dari 45. Banyak komentar miring yang mengatakan bahwa Jordan menjadi juara karena All Star tahun itu diadakan di Chicago yang merupakan markas dari klub Jordan, Chicago Bulls. Di luar hasil yang kontroversi, gue sangat menikmati final slam dunk contest tahun 1988 ini. Wilkins, tak bisa dipungkiri, adalah salah satu atlet NBA yang menciptakan banyak style dalam slam dunk. Dan Jordan, gue rasa lo setuju, signature slam dunk yang dia lakukan dari garis free throw membuktikan bahwa dia layak dijuluki ‘Air’.

Akhir kata, mengutip tagline yang pernah dikumandangkan oleh NBA, I love this game..

Comments

comments