Dekade 80’s adalah masa keemasan bagi berkembangnya diskotik sebagai tempat tongkrongan anak-anak muda untuk berkumpul sambil mendengarkan lagu-lagu disko kesayangan mereka.

Sejak pertama kali munculnya turntable Technics SL-1200MK2 di pasaran pada tahun 1978, yang dikenal sebagai alat pemutar piringan yang paling nyaman digunakan oleh para DJ (disc jockey) di masa itu,  teknik memadukan musik di klub-klub disko mulai berkembang dengan pesat. Di saat itu pula,  para musisi dengan genre pop, reggae dan rock pun sudah mulai ikut-ikutan merilis versi extended/12inch di atas piringan hitam single-nya masing-masing. Dibandingkan dengan versi album yang biasanya memiliki intro terlalu pendek, “versi panjang” ini lebih compatible untuk di-mix dengan lagu-lagu hits lain yang diputar di diskotik secara nonstop.

Turntable Technics SL-1200MK2 (gambar dari Google)

Turntable Technics SL-1200MK2 (gambar dari Google)

Dengan sering diputarnya lagu-lagu non-disko  dengan “Versi Diskotik” (Club Version/Remix) di lantai dansa, maka cakupan genre dari musik Classic Disco sudah tidak lagi hanya dari genre disco saja secara literal, tapi lebih variatif.

Sebenarnya kata disco itu sendiri diambil dari kata dasar disc (piringan), yaitu media penyimpan lagu yang digunakan oleh DJ untuk menghibur para pengunjung dan biasanya juga disebut sebagai vinyl atau PH (Piringan Hitam). Dari sini pula kata disco ini berkembang menjadi kata kerja, yaitu berdansa di atas lantai dansa (dance floor) dan diskotik adalah tempat/sarana untuk melakukan semua kegiatan ini.

Okay, tadi kita ngebahas tentang musiknya, sekarang kita akan ngebahas tentang tempatnya.

Diskotik di era 80’s tidak bisa dipisahkan dari lantai dansa dan lampu-lampu disko gemerlap untuk lebih memeriahkan suasana yang dipandu oleh seorang pemandu lampu (light jockey). Umumnya mereka berpasangan dengan DJ di atas panggung (DJ Booth), sehingga irama musik yang dimainkan oleh DJ akan serasi dengan permainan lampu kru lighting di atas lantai dansa. Sayang hal ini sudah hampir tidak pernah ditemui di masa sekarang karena perkembangan teknologi; kini fungsi lighting biasanya dimainkan secara otomatis.

Di Jakarta, diskotik tongkrongan yang terkenal pada era 80’s adalah Ebony (Kuningan), Music Room (Hotel Borobudur), Stardust (Hotel Jayakarta Tower), Tanamur (Tanah Abang), Manhattan (Ancol), Pitstop (Hotel Sari Pacific) hingga Earthquake (Monas) yang terkenal dengan lantai dansanya yang bergerak naik turun bagaikan gempa. Mengikuti trend perkembangan dunia yang mulai memadukan sepatu roda dengan musik dan dansa, maka mulai bermunculan pula diskotik sepatu roda seperti Lipstick (Blok M & Gajah Mada Plaza) dan Happy Day (Aldiron Plaza, Blok M).

Di sekitar awal era 90’s, musik Classic Disco mulai tersisih oleh trend musik baru, yaitu eurodance dan house, bahkan tergeser total di pertengahan 90’s dengan kemunculan narkoba jenis baru yaitu pil ecstasy (MDMA) di dalam dunia clubbing. Musik yang disajikan pun terdengar datar dengan kick drum dan chord yang diulang-ulang dengan tempo tinggi namun monoton. Kelincahan jemari para DJ dalam memainkan beat, effects, scratch, dan lain-lain pun sudah jarang dijumpai, karena goyangan para pengunjung di dance floor sudah tak lagi “benar-benar” berdisko/berdansa. 😉 Pada saat inilah perlahan embel-embel “Discotheque” di belakang nama tempat-tempat dansa ini mulai tergantikan pula dengan kata “Club”, “Lounge” dan lain-lain.

Comments

comments