Saya yang kebetulan bekerja di luar negeri, walaupun jauh dari tanah air, sehari-hari tentu tetap makan dan memasak masakan khas Indonesia, ya, seperti juga Anda yang ada di tanah air. Ada hikmahnya juga jauh dari  kampung halaman. Walau tidak ahli, saya bisalah memasak walau tentu lebih enak masakan ibu di rumah. Kadang saya masak sayur asem dan ayam goreng, sayur sop, tumis taoge, tumis kangkung, opor ayam atau menu lainnya khas Indonesia. Dan di hari libur biasanya saya masak agak istimewa, kadang bikin mi ayam, ketoprak, mi bakso, siomay, gado-gado, soto mi Bogor, bahkan pernah juga saya coba membuat pempek Palembang. Semua tentu tergantung juga dari ketersediaan bahannya di sini. Belum lama ini, saya melihat buah nangka muda di sebuah hypermarket di Citycentre Sharjah, UAE. Saya jadi kepengen nyoba membuat gudeg khas Jogja, makanan yang sering saya nikmati saat saya masih kecil di tahun ’80-an.

Lalu, dari manakah nama ‘Gudeg’ itu berasal?

Ada dua cerita yang populer mengenai ini, tetapi keduanya masih belum dapat dikatakan sebagai sumber yang credible. Oleh karena itu, dimohon bagi para pembaca untuk tidak langsung memercayai kedua cerita yang dipaparkan pada tulisan ini.

Cerita pertama:

Pada masa penjajahan Inggris di Indonesia sekitar tahun 1812, terdapatlah seorang warga negara Inggris yang memiliki istri seorang perempuan Jawa dan tinggal di Jogja. Untuk menghormati tradisi masyarakat Jawa, warga negara Inggris tersebut memanggil istrinya—yang notabene adalah seorang ibu rumah tangga biasa—dengan sebutan “Dek”.

Pada suatu hari, ketika sang suami sedang pergi bekerja, sang istri bingung ingin memasak apa untuk suaminya hingga akhirnya dia teringat resep turun-temurun keluarganya yang menggunakan bahan dari nangka muda. Ketika sang suami tiba di rumah, ia langsung menuju ruang makan karena tergoda oleh wangi masakan sang istri. Ia pun lantas melahap makanan yang ada.

Sang suami yang belum pernah memakan makanan seenak itu lalu berkata agak keras kepada sang istri. “It is good, Dek!” katanya dengan ekspresi senang. Sang istri terkejut dan bercerita ke tetangga dan teman-temannya kalau sang suami senang sekali dimasakkan resep turun-temurun itu. Sejak saat itu, setiap kali selesai makan makanan tersebut, sang suami selalu bilang “good, Dek”. Dari situlah makanan itu mulai disebut GUDEG sebagai metamorfosis dari kata “good, Dek”.

Cerita kedua:

Beberapa pandangan mengaitkan Gudeg sebagai makanan dari Keraton Yogyakarta, sementara lainnya berpandangan bahwa Gudeg telah lama ada, sejak penyerbuan pertama ke Batavia pada tahun 1726-1728 oleh pasukan Sultan Agung. Belum ada sumber kepustakaan yang menguatkan kedua asumsi tersebut. Walaupun demikian, banyak masyarakat Jogja—khususnya para orang tua—yang berpendapat bahwa Gudeg adalah makanan masyarakat jaman dulu karena bahan baku utamanya (seperti nangka muda, manggar atau rebung) mudah ditemukan di pekarangan sekitar rumah warga. Bahan-bahan tersebut kemudian diolah dan dikembangkan sehingga menjadi Gudeg, makanan khas masyarakat Jogja sampai saat ini.

Nah, berdasarkan dua versi sejarah ini, Anda lebih percaya yang mana?

Gudeg atau dalam bahasa Jawa, gudheg merupakan salah satu makanan khas Jogja dan Jawa Tengah. Gudeg terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan selama berjam-jam agar rasanya kuat. Selain itu, daun jati juga dimasukkan dalam proses pembuatannya. Dari daun jati itulah mengapa Gudeg kemudian berwarna cokelat. Selain menggunakan santan, ada juga yang mengolah Gudeg dengan menggunakan manggar (pangkal pelepah kelapa) atau ada juga yang menggunakan rebung (tunas pohon bambu).

Jika sudah matang, Anda dapat menikmati Gudeg biasanya dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tahu dan sambal goreng krecek. Ada dua jenis Gudeg yang dikenal saat ini: Gudeg kering dan Gudeg basah. Gudeg kering biasanya hanya memiliki sedikit santan sementara Gudeg basah mengandung lebih banyak susu kelapa atau santan. Rasa Gudeg pun bervariasi. Meskipun biasanya manis, Gudeg kadang juga memiliki rasa yang pedas seperti yang terdapat di wilayah Jawa Timur.

Resep Gudeg Istimewa Khas Jogja

gudeg2

Bahan:

– 1 kg nangka
– 8 buah lengkuas
– 200 gr gula merah
– 12 butir telur rebus
– 10 lembar daun salam
– 2000 cc santan dari 1 butir kelapa
– 1000 cc air kelapa atau bisa juga dengan 1 sdt cuka

Bahan yang dihaluskan:

– 24 siung bawang merah dan bawang putih
– 1 sendok teh ketumbar
– 2 sendok makan garam

Cara membuat:

  1. Siapkan panci dan tata daun salam menutupi dasar panci, tata juga di atasnya irisan lengkuas.
  2. Campurkan bumbu halus dengan 500 cc air kelapa, aduk rata.
  3. Tambahkan potongan nangka muda, telur rebus, gula merah. Siram dengan bumbu halus yang dicairkan dengan air kelapa.
  4. Tambahkan air kelapa secukupnya sebatas tinggi nangka dan telur tadi agar terenda.
  5. Tutup panci rapat-rapat, masak di atas api sedang tanpa dibuka tutupnya sekalipun selama kira-kira 2 jam. Angkat.
  6. Tambahkan santan, aduk-aduk dengan sendok kayu sambil hancurkan potongan nangka (jaga jangan sampai daun salam dan lengkuasnya terangkat). Pada tahap ini volume nangka menjadi kurang lebih separuhnya.
  7. Tambahkan kembali telurnya sampai sedikit terkubur dalam nangka.
  8. Rebus lagi dengan api kecil selama minimal 3 jam.
  9. Aduk sesekali sampai santan habis.
  10. Angkat dan sajikan.

Masak sampai Gudeg berwarna cokelat kemerahan dengan cairan yang sedikit dan kental. Siramkan areh/kuah opor ayam kental di atas Gudeg nangka ini secukupnya pada saat menghidangkan.

Sumber tulisan dan foto:

www.beritajogja.co.id/2014/02/sejarah-gudeg-dalam-dua-versi/

anekaresepidola.blogspot.ae/2014/07/resep-gudeg-istimewa-khas-jogja.html

Comments

comments