Menurut kami, dia merupakan salah satu sosok yang berpengaruh di scene music lokal pada era 90-an. Jadi, mari kita baca tanya jawab Nicko Krisna dengan Ahmad Dhani yang dilakukan tahun 2007 lalu.

Pertimbangan Anda memilih Zachary Haider, Michael Christopher Bennet dan Clancy Alexander Tucker untuk proyek The Rock ini?
Ingin mencoba saja, bagaimana rasanya bekerja sama dengan musisi asing. Ini merupakan pengalaman baru bagi saya. Kemampuan mereka belum bisa keluar sepenuhnya di sini, karena saya tahan. Takutnya tidak compatible dengan selera pasar Indonesia.

Ketemu di mana sama mereka?
Di studio 301 Sidney Aussie, saat saya sedang rekaman untuk proyek The Swingers.

Kenapa hanya ada 3 lagu baru?
Saya melihat kondisi pasar musik Indonesia yang sekarang sifatnya hanya butuh single saja. Kalau single-nya kuat, mereka pasti beli. Jadi lebih baik saya jualan single. Hal tersebut sudah terbukti pada album The Rock yang laris manis di pasaran. Karena lagu “Munajat Cinta” merupakan single yang kuat. Kebanyakan lagu-lagu bagus dalam sebuah album, merugikan buat saya.

Lagu tersebut menurut saya melayu banget, memang sengaja konsep-nya dibikin seperti itu?
Saya memang sengaja menciptakan lagu tersebut dengan warna melayu. Itu lagu eksperimen. Bagaimana saya membuat lagu dengan kord yang mudah. Karena kebanyakan lagu-lagu saya kord gitar-nya memang susah. Sampai sekarang pun saya masih sering melihat orang salah memainkan kord lagu-lagu saya. Lagu semudah “Aku cinta kau dan dia” yang mudah pun masih banyak yang salah memainkannya.

Ada materi lagu lama Anda yang dibawakan dalam versi Swing di dalam album The Rock. Ada apa dengan Swing?
Ada sedikit penipuan dalam album The Rock, orang pasti tidak menyangka akan ada musik swing di dalam-nya. Swing itu jalur baru saya, di sini tidak ada pemain swing, dan saya yang pertama kali melakukannya di Indonesia. Saya akan melakukan Swing yang sesungguhnya awal tahun depan bersama The Swingers. Oh ya, saya juga akan membawakan kembali sebuah karya lagu seorang legenda Malaysia, P Ramlee. Judul-nya “ Madu Tiga”.

Saya dengar lagu ini akan dijadikan tema film Anda?
Ya, tapi masih dalam tahap perencanaan dengan pihak Malaysia. Film ini seperti lirik lagunya, yang mengangkat tema poligami. Dan saya akan bermain bersama beberapa artis cantik Malaysia.

Dengan lirik Inggris?
Belum tentu, mungkin ada beberapa lagunya Dian Pramana Putra yang akan saya rilis ulang, seperti lagu “Aku Ini Punya Siapa”. Lagu tersebut basic-nya memang swing.

Saya berpendapat materi Ahmad Band lebih baik daripada The Rock. Ada rencana menghidupkan kembali band tersebut?
Iya, tapi dengan The Rock tentunya. Toh Ahmad Band dan The Rock konseptor-nya saya juga.

Beberapa tahun yang lalu, di Bandung saat Ahmad band manggung di sebuah SMU, saya mendengar statement bahwa Anda tidak menyukai musik grunge. Benar?
Tidak. Itu hanya rumour.

Dari sekian banyak lagu yang Anda ciptakan, bisa sebutkan beberapa lagu Dewa yang terpengaruh lagu orang?
“Restu Bumi” bunyi keyboard-nya saya ambil dari lagu Dream theater. Lagu “larut” aransemen-nya sengaja saya miripkan dengan lagu “The Reason” Hoobastank dan beberapa lagu lainnya yang saya akui memang ada pengaruh Queen di dalamnya. Terutama di sektor aransemen.

Album masterpiece Dewa versi Anda?
Saya sih memilih album Republik Cinta.

Menurut saya album itu sama saja dengan album-album Dewa sebelumnya
Beda ya. Republik Cinta itu lebih berkelas kalau dilihat dari semua segi dibanding album-album Dewa sebelumnya. Lebih elegan.

Apakah Anda mengikuti perkembangan band-band Indie di Indonesia?
Tidak. Paling yang saya tahu Navicula. Band itu cukup bagus.

Anda sudah sampai ke tahap sukses yang diidamkan oleh setiap musisi. Semua project Dhani berjalan dengan baik. Ada komentar?
Menurut saya sih tidak. Karena saya belum banyak berbicara di luar negeri. Pokoknya selama belum keluar dari Indonesia, kita bukan siapa-siapa.

Jadi?
Saya akan menjalankannya bersama The Rock tahun depan. Saya sedang mencari penyanyi untuk The Rock yang mempunyai perpaduan karakter suara Chester (LinkinPark) dan Chris Cornell (Soundgarden). Jadinya nanti saya hanya bermain keyboard dan gitar saja.

Tips sukses bermusik ala Dhani?
Anda harus gila musik, buat terus sesuatu yang baru. jangan memikirkan popularitas. Saya tidak pernah memikirkan hal tersebut.

Apa semua koleksi cd, dvd dan buku Anda yang begitu banyak itu sudah dibaca semua?
Belum.

Ada band favorit lain diluar Queen?
Banyak. Saya sempat suka Gin Blossom, Pearl Jam, Foo Fighters, Stone Temple Pilots dan Soundgarden. Untuk band jaman sekarang yang paling saya suka Muse, nomer dua Linkin Park. Terus ada juga band yang saya suka hanya untuk satu album saja. Band-band tersebut datang dan pergi begitu saja dalam hidup saya. Karena untuk kiblat, saya tetap memilih Queen dan The Beatles.

Bagaimana dengan nasib Tyo di Dewa?
Dia sudah resmi keluar. Penggantinya Agung. Sebelumnya dia additional drummer di Andra and The Backbones.

Alasan Tyo keluar?
Nggak tau ya, tanya saja sama dia. Mungkin dia sudah tidak kuat lagi main drum.

Era musik terbaik itu menurut Anda ada di jaman apa?
Yang pasti di awal 60-an, ramainya di tahun 70-an kemudian di tahun 80-an menurun lagi. Tahun 90-an naik lagi karena maraknya demam musik alternatif di mana-mana. Sesudah jaman itu semua, dunia musik kembali mengalami degradasi. Lahirnya musisi jenius itu sendiri seperti hujan, kalau lagi deras ya deras, kalau lagi paceklik ya tidak ada. Seperti sekarang ini, musisi jenius sangat sedikit sekali! Tidak seperti di tahun 60-an dan 70-an.

Definisi pria yang baik di mata Anda?
Sukarno. Dia merupakan lelaki terbaik di Indonesia.

Wawancara ini dilakukan di kediaman Ahman Dhani, tahun 2007, untuk kepentingan konten whatzups-online.com yang sekarang sudah tiada

Comments

comments