Anak 80an dan 90an mustinya pernah nonton film The Killing Fields, film peraih Oscar yang mengisahkan kekejaman perang saudara di Cambodia, mungkin juga pernah menggemari lagunya Kim Wilde berjudul Cambodia atau headbang mengikuti The Dead Kennedys menyanyikan lagu Holiday in Cambodia. Penasaran nggak sih, kayak apa negara tetangga kita Cambodia itu? Nah, Brur & Zus, kali ini saya mau berbagi cerita serta tips buat yang mau mengisi liburan pendek ke Siem Reap (Angkor), tujuan wisata nomor satu di Cambodia (sering juga disebut Kamboja atau Kampuchea). Kalo Brur & Zus punya waktu libur 2-3 hari, sudah cukup kok untuk menjelajahi obyek wisata utama di Cambodia  ini. Pas banget untuk mengisi weekend atau harpitnas. Siem Reap adalah nama kota modern dekat dengan kompleks Angkor, sementara Angkor adalah kota lama yang dihuni antara abad 8-14 dimana ratusan candi saat ini berlokasi.

 

How To Get There?

Dari Indonesia, sampai saat ini belum ada penerbangan langsung ke Siem Reap. Kalau mau ke Siem Reap naik pesawat, alternatifnya transit di Bangkok, Kuala Lumpur, Ho Chi Minh atau Singapore. Beberapa airlines yang punya connecting flight ke Siem Reap antara lain Air Asia, Tiger Air dan Vietnam Airlines. Harga tiket pesawat Jakarta-Siem Reap berkisar antara 2 jutaan sampai 5 jutaan pulang-pergi, tergantung kapan kita booking pesawat dan kapan terbangnya. Pada musim liburan (high season) seperti lebaran, natal dan tahun baru, harga tiket cenderung mahal. Rajin-rajin aja berburu tiket murah dari berbagai portal tiket pesawat.

01 gerbang masuk cambodia

Saya sendiri saat berkunjung ke Siem Reap memilih jalur darat dari Bangkok. Pertimbangan saya, tiket pesawat Jakarta-Bangkok sangat banyak tersedia, lantaran banyak airline yang melayani jalur gemuk ini. Cukup mudah mendapatkan tiket ke Bangkok dengan harga di bawah 1 juta rupiah sekali jalan menggunakan LCC seperti Air Asia atau Lion Air. Dari Bangkok, ada bus yang melayani trayek Bangkok-Siem Reap non-stop, berangkat dari Terminal Bus Mo Chit 2. Jadwal keberangkatan setiap hari jam 8 pagi dan 9 pagi, dengan harga tiket bus 750 baht per orang (sekitar Rp 280.000). Kalau mau lebih avonturir, dari terminal bus Mo Chit 2 bisa naik bus ke kota perbatasan di sisi Thailand, Aranya Prathaet, dengan harga tiket bus sekitar 400-500 baht. Dari Aranya Prathaet lanjut naik tuktuk ke perbatasan, begitu masuk Poi Pet (kota perbatasan di sisi Cambodia), cari bus lagi ke Siem Reap dengan tarif sekitar 15 USD.


02 antrian imigrasi di Poi Pet, perbatasan Cambodia

 

Perjalanan naik bus dari Bangkok sampai perbatasan sekitar 4 jam. Kemudian antri imigrasi untuk keluar Thailand, jalan kaki menyebrangi jembatan perbatasan Thailand-Cambodia, dan antri lagi masuk imigrasi Cambodia. Proses imigrasi ini makan waktu sekitar 2 jam, karena saat saya kesana menjelang tahun baru, antrian wisatawan cukup panjang.

 

Dari Poi Pet, bus yang sama membawa kita lanjut ke Siem Reap, dengan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam. Oh ya, bus yang saya tumpangi adalah bus milik pemerintah Thailand, jadi mereka punya keistimewaan bisa melayani rute non-stop, sedangkan operator bus swasta harus berganti bus di perbatasan. Bus nya cukup nyaman, ac dingin, ada toilet di belakang. Tiket bus 750 baht tersebut sudah termasuk sarapan (air mineral, nescafe kaleng dan 2 pastries) serta makan siang, nasi goreng ayam, yang dibagikan diatas bus.

 

Selain jalan darat lewat Bangkok, Siem Reap juga dapat dicapai melalui Ho Chi Minh, Vietnam, dengan waktu tempuh yang relatif sama dengan perjalanan dari Bangkok, sekitar 8 jam termasuk proses imigrasi.

Oh ya, di Siem Reap ini semua transaksi menggunakan mata uang US Dollar. Mulai dari anak-anak pedagang suvenir sampai resto dan supermarket hanya menerima USD. Mata uang Cambodia, Riel, malah tak banyak yang mau terima, mungkin karena nilainya cenderung melemah terus. Kalo kita ambil uang di ATM, yang keluar juga USD. Saat saya disana Desember 2014, kurs 1 USD = 4200 Riel.

 

Where to Stay?

Siem Reap merupakan kota wisata yang berkembang pesat selama 10 tahun terakhir, terutama sejak meledaknya film Tomb Raider yang mengambil lokasi shooting di beberapa situs bersejarah di seputar Angkor. Penginapan dari kelas melati sampai resor bintang 5 internasional tersebar di penjuru Siem Reap. Kalo anda pergi sendirian atau mau hemat, bisa cari youth hostel atau bed & breakfast dengan tarif sekitar USD10-15 per orang per malam. Kalo mau lebih nyaman dengan keluarga, bisa cari hotel-hotel bintang 2-3 dengan tarif sekitar USD 30-USD 60 per kamar. Yang punya budget lebih, silakan browse hotel bintang 4-5 yang rate nya diatas USD 100 per kamar per malam. Saya sendiri menginap di Amra Angkor hotel, ini hotel bintang 3 menurut portal reservasi hotel agoda.com dan booking.com, dengan rate sekitar USD 30 per malam, tapi kalo menurut saya sih lebih pas sebagai hotel bintang 2 ya.

 

Getting Around and Things To See

10 Mr Seth's tuktuk

Di Siem Reap tidak ada taksi meter, yang ada sejenis tuktuk, bentuknya mirip delman tapi ditarik motor. Alternatif lain bisa sewa mobil, sewa motor atau sewa sepeda. Keliling Siem Reap naik sepeda kayaknya asik juga (kalo dengkul kuat :D), harga sewa sepeda disana hanya USD 1 per hari.

 

Apsara Dance Buffet Dinner

Mr. Seth, abang tuktuk yang mengantar kami membawa kami ke Mondial restaurant. Restoran buffet ini sangat besar, bisa menampung 1.000an tamu sekaligus. Menu buffet nya enak-enak, nama makanannya aneh-aneh tapi ada terjemahan inggrisnya. Rasanya mirip-mirip masakan Thailand dan cocok buat lidah Indonesia. Buat muslim, hati-hati aja, musti melihat tulisannya, karena ada beberapa menu yang mengandung babi. Tersedia juga menu vegetarian. Tarif per orang untuk buffet dinner dan nonton Apsara dance ini USD 12 per orang. Anak dibawah 12 tahun gratis. Tarian Apsara yang di pentaskan merupakan rangkaian tarian yang sebagian besar  berkisah tentang pergaulan muda-mudi dan kegiatan bertani, sekilas mirip dolanan anak-anak jawa dan sebagian lagi sangat mirip dengan tarian Thailand. Selesai makan malam, kami kembali ke hotel, tarif tuktuk pulang pergi USD 10.

 03 Apsara dance dinner

Angkor Wat

Kami dijemput tuktuk dari hotel jam 05.30, untuk melihat sunrise di Angkor Wat. Tiket masuk kompleks Angkor sebesar USD 20 per orang, dengan tiket itu kita bisa mengunjungi Angkor Wat, South Gate, Bayon Temple, Takeo, Baphoun dan Ta Phrom. Angkor Wat yang dibangun di abad 12 ini awalnya adalah candi hindu, namun kemudian diubah menjadi candi umat Buddha.  Kami tiba di pelataran Angkor Wat sekitar pukul 06.00, pas menjelang matahari terbit. Sungguh indah melihat pemandangan dimana Angkor Wat perlahan terlihat seiring beranjaknya matahari dari balik Angkor Wat.

04 sunrise at angkor wat

Setelah matahari terbit, kami memasuki kawasan Angkor Wat, melewati jembatan yang membelah danau yang mengelilingi Angkor Wat. Melewati gerbang utama, kita akan menemui reflecting pool, di sisi kiri dan kanan candi, berfoto didepan kolam ini akan memberikan refleksi candi yang sempurna. Sekitar 3 jam kami berkeliling Angkor Wat, tak lupa berfoto di berbagai sudut candi yang cantik ini. Bagi pengunjung wanita, wajib mengenakan pakaian yang melewati lutut jika ingin naik ke candi utama. Kalo terlajur pake celana pendek gak perlu sedih, banyak pedagang yang jual kain penutup di sekitar situ. Di Angkor Wat ini masih dapat ditemui sisa-sisa perang Khmer, sebagian dinding rusak oleh peluru dan mortir, bahkan banyak sisa peluru yang masih tertancap di dinding candi. Sebagian kepala patung juga hilang, konon sengaja dipenggal pasukan Khmer Merah, untuk dijual dan hasilnya dibelikan senjata.

05 reflection pool di angkor wat

Angkor Thom

Dari Angkor Wat tuktuk mengantar kami lanjut ke Bayon Temple, candi terbesar kedua di kawasan Angkor. Candi Bayon ini masuk dalam kawasan Angkor Thom (Kota Angkor di masa lalu), untuk menuju candi ini kita akan melewati South gate, pintu gerbang masuk kota Angkor. Pintu gerbang ini juga menjadi lokasi shooting beberapa scenes dalam film Tomb Raider. Saat kami di depan gerbang ini, rombongan gajah lewat melintasi gerbang, sungguh berasa terlempar ke masa lalu 😀

06 Angkor thom south gate

Sampai di Bayon Temple, kita memasuki kawasan candi terbesar kedua setelah Angkor Wat ini. Secara arsitektur, banyak kemiripan antara Bayon Temple dengan Angkor Wat, hanya saja skalanya lebih kecil dan tidak terlalu tinggi. Ornamen candi yang ada di Bayon Temple ini mirip dengan yang ada di Angkor Wat.

 

Puas berkeliling di Bayon Temple kita lanjut ke kawasan Ta Phrom, melewati beberapa candi yang lebih kecil antara lain Takeo dan Baphon. Ta Phrom menjadi salah satu candi favorit bagi wisatawan, lantaran kompleks candi ini pernah terlantar selama ratusan tahun, sehingga banyak pohon-pohon besar tumbuh diantara bebatuan candi. Ta Phrom ini juga menjadi lokasi utama shooting film Tom Raider. Salah satu ikon wisata di kompleks candi Ta Phrom ini adalah sudut candi dimana ada pohon besar tumbuh dengan akar-akarnya menjalar diatas dinding candi. Saking banyaknya wisatawan yang ingin berfoto di sudut ini, sejak beberapa waktu lalu di tempat tersebut dibuat pagar dan jalur antrian.

07 Ta phrom temple

Floating Village

Puas berkeliling kawasan Angkor Wat dan Angkor Thom dengan banyak kompleks candinya, kami kembali ke Siem Reap untuk makan siang. Sekitar jam 4 sore kami melanjutkan wisata ke Floating Village, desa terapung yang berada di danau Tonle Sap, danau ini adalah danau terbesar di Asia Tenggara. Perjalanan dari Siem Reap menuju Tonle Sap sekitar 30 menit dengan tuktuk. Dari tepian Tonle Sap, kita membeli tiket perahu seharga USD 20 per orang.  Perahu membawa wisatawan dari tepian Tonle Sap menuju kampung terapung. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit dengan perahu, kita mulai memasuki kawasan kampung terapung. Kampung ini terdiri atas sekumpulan rumah perahu, lengkap dengan pasar, sekolah, gereja dan restoran untuk wisatawan.

08 anak pulang sekolah di floating village

Unik juga melihat warga disana 24 jam hidup terombang-ambing diatas air. Di tengah danau ada beberapa floating restaurants, tempat perahu wisata berlabuh dan wisatawan bisa berbelanja suvenir. Di tengah floating restaurants ini juga ada penangkaran buaya dan penjualan produk-produk kulit buaya. Jangan meleng aja kalau lewat sini, bae-bae kecemplung kolam buaya.. hehehe.. Di floating restaurants ini juga ada observation deck, kalau kita naik kesana, bisa melihat ke sekeliling danau Tonle Sap, saking luasnya danau ini, tepiannya tidak terlihat, seperti di tengah lautan. Observation deck ini menjadi tempat favorit wisatawan untuk menunggu matahari terbenam. Jika pagi tadi kita melihat sunrise di Angkor Wat, sore ini nonton sunset di Tonle Sap.

09 sunset at Tonle sap

Night Market

Dari Tonle Sap, selepas matahari terbenam kita kembali ke Siem Reap. Mr. Seth menyarankan kami ke night market, kawasan pasar malam yang relatif baru dan modern. Buat ibu-ibu yang hobi belanja suvenir, handicraft, baju dan kain-kainan, night market ini cocok banget deh buat ngabisin dollar. Dari sini kami kemudian di antar ke old night market, pasar malam lama yang jauh lebih besar, lebih ramai, tapi tidak beraturan. Toko, kios, lapak dan pedagang kaki lima campur baur di kawasan ini. Segala macam dagangan rasanya ada deh, mulai dari suvenir, elektronik, garmen, restoran, café sampai pedagang kuliner ekstrim yang jualan kalajengking, tarantula dan ular goreng.

 

Kawasan old night market ini juga berhadap-hadapan dengan Art market, dipisahkan sungai. Di Art market lebih banyak pedagang lukisan, patung dan batu-batu mulia. Tidak jauh dari Art market, terdapat Hard Rock Café Angkor. Café ini baru dibuka pada pertengahan tahun 2014. Buat yang koleksi kaos, pin, dan merchandise Hard Rock Café, jangan lupa mampir kesini.

 

Nggak terasa sudah 16 jam lebih kami berkeliling Siem Reap dan Angkor, dari jam 5.30 pagi sampe jam 10 malam. Kamipun kembali ke hotel. Ongkos yang di charge Mr. Seth untuk sewa tuktuk nya mengantar kami seharian sebesar USD 40, tapi karena orangnya sangat ramah dan banyak merekomendasikan tempat wisata dan tempat makan yang asik-asik, kita kasih dia tips tambahan USD 20.

 

Akhir dari petualangan kami di Siem Reap, waktunya istirahat.. zzzz..

 

Catatan: Judul artikel meminjam judul lagunya Dead Kennedys – ‘Holiday in Cambodia’

Comments

comments