Tragedi Milli Vanilli yang terbongkar telah melakukan lip sync alias cuma ngegerakin bibir doang sambil mengikuti vokal pada  rekaman lagu yang sebenarnya dinyanyikan oleh orang lain, memang bisa dibilang cukup menggemparkan pecinta musik pop & R&B di akhir era-80 an, dan sampai saat ini pun masih terus diingat, layaknya Bad Dreams To Remember.

Kecurigaan para fans mulai terdengar sejak “live” performance duo Fab Morvan & Rob Pilatus ini pada salah satu acara MTV, 21 Juli 1989. Saat sedang menyanyikan “Girl You Know It’s True“, tiba-tiba terjadi masalah pada CD rekaman lagu yang dimainkan. Kalimat “Girl, you know it’s – girl, you know it’s…” tiba-tiba berulang-ulang dengan sendirinya dengan jumlah pengulangan yang sama sekali tidak wajar bahkan pada versi remix manapun. Awalnya Rob yang “menyanyikan” bagian refrain dari lagu tersebut cuek aja dan berpura-pura mengikuti pengulangan line tersebut, hingga akhirnya dia mulai merasa canggung dan mereka berdua pun ngibrit ke belakang panggung. Selain peristiwa tersebut, kecurigaan fans bahwa Rob & Fab tidak benar-benar menyayikan lagu mereka sendiri juga didasari atas logat bahasa Inggris mereka ketika wawancara yang tidak sefasih saat menyanyi.

Single demi single seperti Girl You Know It’s True, Baby Don’t Forget My Number, Girl I’m Gonna Miss You dan Blame It On The Rain mengantar duo yang diproduseri oleh Frank Farian yang pernah sukses dengan Boney M ini sebagai peraih The Best New Artist di event musik tahunan paling bergengsi di dunia yaitu Grammy Award, pada tahun 1990. Entah angin apa yang menyebabkan tak lama kemudian, Milli Vanilli menggelar press conference, di mana Rob Pilatus & Fab Morvan menyampaikan permintaan maaf sekaligus mengakui bahwa suara mereka tidak benar-benar ada pada satu pun lagu Milli Vanilli. Piala Grammy pun secara resmi dikembalikan oleh Rob & Fab yang merasa tidak berhak memegangnya.

“Awalnya, Frank Farian nyodorin kita kontrak buat nyanyi di album Milli Vanilli, dikasih sedikit DP yang langsung ludes buat biaya penampilan, termasuk kostum dan model rambut.” kenang Fab Morvan yang didampingi manajernya, Kim Marlowe, pada tahun 2011. “Selang beberapa bulan, barulah Farian menghubungi kembali, melunasi kekurangan DP-nya, sekaligus menjelaskan tugas kita, yaitu melakukan lip sync atas lagu-lagu yang sudah direkam terlebih dahulu.” “We were not hired, we were trapped”, tambah Fab.

Setelah peristiwa “pengakuan dosa” tersebut, surutlah karir Milli Vanilli. Cap “pembohong” pun melekat di nama Milli Vanilli, terutama Rob & Fab sebagai front-liner di band tersebut. Well, you can’t blame it on anything juga sih, kalo udah begini. 🙂

Sebagai usaha pengembalian reputasi, pada tahun yang sama Frank Farian merilis album “The Moment Of Truth” dengan nama “The Real Milli Vanilli” yang personilnya (Brad Howell, John Davis, Jodie Rocco, Linda Rocco, Charles Shaw) tak lain adalah orang-orang di belakang Milli Vanilli sebelumnya. Album ini tidak laku di pasaran, walaupun di dalamnya disertakan lagu “When I Die” dan “The End Of Good Times” yang sebelumnya sudah diperkenalkan lewat radio atas nama Milli Vanilli. Kegagalan penjualan terus dialami bahkan hingga rilis album mereka dengan nama lain: Try ‘N’ B, di tahun 1992.

Di sisi lain, Rob & Fab juga merilis album (dengan suara asli mereka) pada tahun 1993 dengan single “We Can Get It On“. Juga ga laris di pasaran.

“This is the end, the end of good times

all over now, like history”

 

Well, mungkin para penggemar mereka sudah terbiasa dengan vokal & musik yang bagus yang dibarengi dengan stage performance yang menarik, secara satu kesatuan, bukan terpisah. They expect All. Or Nothing. 🙂

Lima tahun kemudian Frank Farian mengajak Rob & Fab untuk menghidupkan kembali nama Milli Vanilli dengan merilis album baru berjudul “Back and In Attack“, dengan vokal asli mereka, namun pembuatan album ini tersendat-sendat karena beberapa kasus narkoba dan kriminal termasuk beberapa perampokan yang dilakukan Rob. Frank mengirim Rob kembali ke Jerman untuk menjalani rehabilitasi selama 6 bulan. Ironisnya, tepat di jadwal promo album tersebut di tahun 1998, Robert Pilatus ditemukan meninggal di kamar hotelnya di Frankfurt, diduga atas overdosis obat-obatan yang dibarengi dengan alkohol. I’m gonna miss you, Rob. Album comeback-nya Milli Vanilli ini pun ga pernah teralisasi.

 

Catatan penulis:

Agak miris melihat kenyataan publik yang meng-highlight duo Fabrice Morvan & Robert Pilatus sebagai “pembohong”, sedangkan di sisi lain , Fab, dan Rob (yang akhirnya mengorbankan nyawanya sendiri karena guncangan berat), telah dimanfaatkan oleh Frank Farian sebagai produser, untuk medukung performance band di belakangnya yang bisa main musik DAN nge-mix tambal-sulam sound & sample dari lagu-lagu musisi lain yang pernah hit sebelumnya. “Kebohongan” ini terbongkar setelah Rob & Fab habis kesabarannya dan mengakui di depan publik bahwa mereka tidak diizinkan MENCOBA (read:belajar) menyanyi dengan suara mereka sendiri oleh orang2 di belakangnya, selain mangap-mangap doang, merekapun dianggap layak membantu bandnya dengan kelebihan mereka di fashion, performance, koreografi, stage act, dan kemampuan menjadi public figure yang dianggap tidak dimiliki oleh para musisi mereka.

SEANDAINYA pada saat itu tidak ditutupi bahwa Rob & Fab cuma lip sync diiringi vokal asli John Davis & Charles Shaw, saya pribadi akan tetap menikmati kemasan mereka dari segi entertainment audio & visual, seperti layaknya para tokoh kartun The Gorillaz yang akan bisu seandainya tidak didubbing oleh Damon Albarn & the gang.

Lain halnya kalau vokalis selevel Mariah Carey atau Whitney Houston yang jelas-jelas menjual suara, lalu ketahuan lip sync.

 

Ditulis oleh: rappy

Comments

comments