Halo Kawula Muda semuanya! Cieee lapanpuluhan banget ya? 🙂

Seinget gue, istilah ini dipopulerkan oleh Radio Prambors, yang sejak masih kresek-kresek di 666 kHz, sampe pindah ke gelombang dengan suara bening di 102,3FM, menyapa para pendengarnya dengan nama itu. Radio tempat anak muda mangkal ini memang banyak menyadur istilah-istilah sastra Indonesia klasik dalam berbahasa, Sehingga kesannya emang keren aja kalo dipanggil dengan sebutan “Kawula Muda”. 🙂 Yang jelas, sebutan nge-trend untuk para muda-mudi di era 80-an tersebut emang kedengeran lebih “yo’i” aja dibanding jaman sekarang: “ABG” :-/

gejolakkawulamuda-dlmKata “Kawula Muda” ini sempat semakin ngetrend sejak pemutaran film berjudul “Gejolak Kawula Muda” yang bertema tarian yang baru beken-bekennya pada saat itu yaitu Breakdance. Film dengan market remaja ini pun merangkul para juara Breakdance pada masanya yaitu: Rifky “Voltus” Gunawan yang gape banget melakukan windmill,  breakdance move yang ahlinya di negara kita pada saat itu bisa dibilang masih langka, Septian Dwi Cahyo, si jago pantomim yang sebelumnya ngetop di serial “Rumah Masa Depan”, juga gak ketinggalan, si cewe breaker yang tomboy tapi kece, Cindy Kinikea.

Gak cukup dengan para b-boy dan b-girl tersebut, film yang disutradarai oleh Maman Firmansjah ini juga memajang artis-artis beken sebagai daya tarik. Mantan penyanyi cilik yang saat itu masih aktif sebagai penyanyi remaja, Chicha Koeswoyo dan aktor muda, Rico Tampatty dipasangkan sebagai peran utamanya, plus artis-artis muda antara lain penyanyi bersuara keren Titi Dwijayati (yang pada saat itu belum pake “DJ”), Ria Irawan hingga rocker kondang Ikang Fawzi.  Para aktor senior seperti Kusno Sudjarwadi, Pitrajaya Burnama, serta Zainal Abidin, dan Ade Irawan yang berperan sebagai bokap-nyokapnya Chicha pun ikut andil. Gak boleh dilupakan, anak-anak dancer dari Swara Mahardhika (yang pada saat itu Titi & Rico termasuk anggotanya) pun turut bikin film ini menghibur.

Inti cerita “Gejolak Kawula Muda” sendiri sih standard. Biasa lah, para orang tua yang gak setuju anak-anaknya ikut-ikutan joget-joget di jalanan dengan tarian impor, dengan alasan pemicu kerusuhan, faktor risiko injury dan lain-lain hingga alasan budaya. Chicha yang ballerina dituntut oleh orang tuanya untuk hanya mencintai tarian yang “berbudaya” seperti klasik maupun tradisional, hingga akhirnya para “kawula muda” itu berinisiatif bikin pertunjukan seni yang menampilkan nyanyi, tarian breakdance dan diselipkan tari bali di akhir performance, hingga orang tuanya terharu, caelah! Hehehe… walaupun ide cerita stereotype ini udah overused banget hampir di semua film bertema dance, dari Lucinda Dickey dalam “Breakin’” di tahun 80-an sampai Julia Stiles di “Save The Last Dance” pada era milenium, dan masih segambreng judul-judul lainnya yang sempet gue tonton dan koleksi pun menceritakan tentang krisis budaya atas datangnya trend Hip Hop di kalangan pemuja Ballet.

Film ini menampilkan tiga original theme song; dua love songs yang masing-masing dinyanyikan oleh Chicha dan Titi, juga satu lagu ending theme, yang tadi gue bahas di atas, berjudul sama dengan filmnya.

Selain tiga lagu berbahasa Indonesia tersebut, film ini juga menampilkan lagu-lagu breakdance yang lagi ngetop saat itu, seperti “Rockit”-nya Herbie Hancock dan “Breakin’… There’s No Stoppin’ Us”-nya Ollie & Jerry, yang mengiringi awal cerita, Ethnicolor, space music yang dicomot dari album “Zoolook”-nya Jean-Michel Jarre di adegan Chicha menari ballet, “Electric Kingdom” dari Twilight 22 (Chicha mimpi, dia nari couple-an bareng Rico), “Junku”-nya Herbie Hancock, di scene waktu anak-anak cari dana untuk bikin pagelaran, dan yang gak-mungkin-nggak, “Zoolook” dari Jean-Michel Jarre, di adegan ngadu (baca: battle) breakdance antar gang, juga di scene manggung di ending film.

 

Dari aktor dan aktris non-breaker yang main di film ini, menurut gue yang beneran bisa nge-break cuma Ria Irawan dan Titi DJ doang. Gue inget banget adegan Titi adu popping sama Cindy di scene ngadu, juga moonwalk dan miming sambil markirin mobil di adegan cari dana. Sedangkan Chicha sendiri attitude ballet dan tari Bali yang didalaminya, nempel banget, sehingga ada beberapa dance scene di mana dia melakukan gerakan locking, kelihatan kurang greget. menurut gue pribadi. Di pertengahan film pun Rico yang ceritanya lagi latihan breakdance diiringi “Freakshow on the Dance Floor”-nya The Bar Kays, terlihat cuma mengulang-ngulang jurus helicopter doang 😀 . hehehehe.

Kalo Septian Dwi Cahyo sih, gak usah ditanya, aktor yang mengawali ketenarannya dari pantomim ini memang serius mendalami breakdance.

By the way, kemaren gue bongkar-bongkar gudang akhirnya nemu dua kaset koleksi gue back from my childhood. Salah satunya adalah album lagu-lagu Kalideres-20150109-00169Chicha Koeswoyo, termasuk theme song film “Gejolak Kawula Muda” yang ditulis oleh Nomo Koeswoyo, bokapnya. Lagu pop bernuansa breakdance ini emang catchy banget, dengan instrumen gamelan bali sebagai variasi di akhir lagu, walaupun aransemennya sebelas-duabelas dengan “Believe In The Beat”-nya Carol Lynn Townes yang jadi soundtrack film “Breakin’ 2: Electric Boogaloo”.

Selain tembang andalan itu, gak kurang ada 9 lagu up-beat lainnya di dalam album ini.

IMG-20150109-00172

 

 

IMG-20150109-00170Satu kaset lagi yang gue temuin adalah drama dari Sanggar Mandiri berjudul “Gejolak Kawula Muda” yang ceritanya sama sekali gak ada hubungan sama film dengan judul yang sama, tapi menyertakan lagu-lagunya Chicha di dalamnya. Dan, lucunya, pada saat itu gue beli juga. Hehehe.

 

Fun fact: Band Club 80’s merilis lagu bertema 80-an pada tahun 2005, juga berjudul “Gejolak Kawula Muda”.

Author: rappy

 

Comments

comments