Pada era 80’s, terkenal istilah ngeceng yang berasal dari kata mejeng. Menurut saya, ngeceng bertujuan untuk ‘dilihat dan terlihat’ dan kata ini pada awalnya hanya dimengerti oleh anak-anak yang besar di Jakarta. Tapi karena fenomena ngeceng sendiri menjadi populer, maka anak-anak yang di luar Jakarta, bahkan di daerah-daerah di luar pulau Jawa, juga mengenal kata ngeceng. Di Jakarta, ngeceng sendiri biasanya dilakukan setelah jam sekolah selesai yaitu sekitar pukul 4 sore dan tentunya juga pada hari Sabtu–Minggu. Malah dua hari yang disebut terakhir menjadi hari-hari penting untuk ngeceng. Rata-rata remaja perngecengan selalu berdandan modis ala 80’s dan membuat grup-grup sendiri yang bahkan diberi nama seperti Marsose (mereka memiliki bahasa rahasia sendiri), Trosco (grup mobil tipe jip) dan masih banyak lagi. Mungkin kalian yang membaca artikel ini adalah eks anggota grup-grup perngecengan era 80’s tersebut.

Perngecengan sendiri awalnya dilakukan di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mungkin anak-anak Kebayoran Barulah yang memulai gaya hidup ini.  Dari mulai berkumpul di depan Apjay atau Apotik Jaya di Jalan Panglima Polim atau di depan Circle K, di daerah sekitarnya, sampai berkumpul dengan mobil atau kendaraan masing-masing di sekitar jalan-jalan yang banyak dilalui oleh para kawula muda yang lain. Pada saat itu salah satu jalan yang paling ngetop untuk tempat ngeceng adalah Jalan Melawai Raya. Jalan ini sampai mendapat sebutan khusus yaitu Lintas Melawai. Walau sebenarnya jalan ini hanya sepotong alias tidak panjang, tapi Lintas Melawai adalah jalan yang sangat penting di era 80’s bagi para remaja yang nge-fans dengan aktivitas ngeceng.

Ditambah dengan adanya dua diskotek sepatu roda yang buka di siang hari, Lipstick dan Happy Day, juga adanya restoran fastfood ’80-an seperti American Hamburger, Burger King dan Dairy Queen (dua restoran terakhir sempat hilang dari Jakarta sebelum muncul lagi sekarang) membuat perngecengan di Lintas Melawai menjadi semakin marak. Perngecengan kemudian menjalar ke arah Jakarta Pusat, dengan munculnya diskotek siang (buka pukul 3 siang tutup pukul 6 sore) Sunday Afternoon yang dipionirkan oleh Ebony Videotheque dan untuk urusan perut tepat di sebelah Ebony ada restoran fastfood Big Boy (sudah tidak ada).

Lipstick

logo

Para anak perngecengan kemudian merambah daerah Menteng, tepatnya di jalan di depan Keris Gallery dan Taman Lembang yang terkenal dengan jajanan berbagai nasi goreng – sampai ada nasi goreng yang diberi nama Nasi Goreng Setan karena isinya campur baur – dan aneka sate-sate.

image0054

Perngecengan kemudian disemarakkan dengan dibuatnya film tentang Lintas Melawai dengan judul Blok M yang dibintangi aktris-aktris ngetop di jamannya yaitu Paramitha Rusady dan Desy Ratnasari. Bahkan lalu dibuat lagu dengan judul Lintas Melawai yang dinyanyikan oleh rocker ngetop ’80-an, Hari Mukti. Sampai-sampai salah satu radio terkenal di kalangan kawula muda pada saat itu, Prambors, bekerja sama dengan Ebony Videotheque mengadakan kontes ngeceng di salah satu acara Sunday Afternoon-nya.

Saya adalah salah satu kawula muda yang rajin sekali mengikuti ritual perngecengan ini dan kenangan yang tertinggal dari saat-saat itu sampai sekarang menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan. Perngecengan adalah cara kawula muda pada masa itu mengekspresikan diri dalam pergaulan. Bangganya bisa menjadi bagian dari kawula muda era 80’s. Peluk erat semua Brur & Zus seantero Indonesia dan dunia!

(Gambar-gambar dari Google)

Comments

comments