Apa yang terjadi jika wanita berambut bondol, pria penari, sebongkah lempung dan lagu lawas dipertemukan dalam satu frameEPIC!

Kolaborasi keempatnya melahirkan one of the most memorable love scenes of the 90’s. Adegan tersebut akan selalu menempel di benak moviegoers, terutama yang besar di era tersebut. Berkat adegan itu, kita yang sebelumnya tidak tahu atau bahkan tidak pernah mendengar lagu Unchained Melody mendadak sontak berlomba-lomba menghafal liriknya dan menyanyikannya di setiap kesempatan baik itu di kamar, di WC, di telepon, di atas becak, di ruang kelas, di depan pacar, di ruang BP atau bahkan di antrian pembayaran listrik. Menghafal liriknya adalah kewajiban, harga mati bagi kaum adam yang mengecap dirinya sebagai pria romantis.

Kata DITTO adalah keharusan untuk diucapkan oleh para pria romantis dengan tatapan mata penuh arti saat menatap pasangan atau pacar mereka.

Saat sang pacar bilang “aku sayang kamu”, si pria akan langsung menjawab: DITTO
Ketika sang pacar ngomong “aku kangen kamu”, si pria akan seketika menjawab: DITTO
Waktu sang pacar ngasih tau “aku datang bulan”, si pria spontan menjawab: DITTO 

Semua wanita ingin memiliki potongan rambut ala Demi Moore, semua pria ingin belajar menari dan punya badan bagus seperti Swayze, semua pasangan yang dimabuk cinta ingin bisa (baca: belajar) membuat keramik atau pot bunga, tapi tak seorang pun yang ingin (sudi) menjadi bongkahan lempung.

Selain mereka, ada satu pelakon yang sukses mencuri perhatian (screen-stealer), bukan hanya perhatian moviegoers tapi juga para juri Academy Awards yang tanpa ragu mengganjarnya dengan Piala Oscar sebagai Artis Pendukung Wanita Terbaik tahun 1991. Perannya sebagi Oda Mae Brown, cenayang abal-abal yang menjadi media antara Molly dan Sam sebelum menuju ke keabadian betul-betul mengocok perut sekaligus menghadirkan haru.

Whoopy Goldberg mengeluarkan kemampuan terbaiknya selepas The Color Purple. Dialog, ekspresi juga pakaian yang dikenakan Goldberg mendekati sempurna. Mungkin yang sedikit “mengganggu” hanya adegan saat Oda Mae merelakan tubuhnya dijadikan media bagi arwah Sam untuk dapat menyentuh Molly untuk terakhir kalinya sebelum lepas landas. Membayangkannya dari kacamata realitas sepertinya sulit diterima.

Saat itu setelah menonton Ghost di bioskop para pria mampu (rela) sedikit menurunkan ego kelelakiannya untuk turut hanyut dalam genangan air mata bersama pasangan mereka. Ada yang betul-betul meresapi, ada juga yang mencoba meraih simpati. Ada yang benar-benar mengeluarkan air mata, ada yang melakukan permainan watak untuk memetik kecupan pada bibir setelahnya.

Ghost akan selalu dikenang sebagai salah satu film romantis sepanjang masa. Apa yang disajikan sanggup menghadirkan euforia dan mampu menciptakan gayanya sendiri. Saya merasa beruntung karena pernah menyaksikannya secara langsung, meski sendiri, meski tanpa pasangan, tapi setidaknya saya dapat menangkap euforia yang ada dari para kekasih di sekeliling saya.

Don’t you “God dammit” me. Don’t you take the Lord’s name in vain with me. I don’t take that!  – Oda Mae Brown –

Foto: dari Google

Comments

comments