Baru saja saya menulis tentang buku Mr. Dahl yang melambungkan namanya, eh… ternyata sudah keduluan Brur Rappy di artikel tentang buku. Tapi tidak apa-apa ya, saya tidak dapat menahan diri untuk tidak memublikasikannya.

Fakta yang tak terbantahkan adalah, Roald Dahl cinta cokelat. Dia bahkan seorang chocoholic. Salah satu pengalamannya yang berkesan adalah di usia belasan saat bersekolah di Rapton, Midlands-Inggris, dia dan teman-temannya sangat beruntung bisa mencicipi hadiah dari Cadbury berupa cokelat-cokelat batang dan memberi nilai 0-10 sebelum cokelat-cokelat tersebut dipasarkan.

Dia menyadari bahwa perusahaan cokelat besar itu memiliki ruang penemuan dan mereka mengerjakannya dengan sangat serius. Dia sering membayangkan kerja di pabrik cokelat dan menemukan sesuatu yang amat sangat lezat kemudian bergegas menemui Mr. Cadbury, “Aku menemukannya, Sir! Cokelat ini fantastis! Menakjubkan! Mengagumkan! Tak tertahankan!” Dan begitu pria hebat itu menggigit sepotong kecil dan mengulumnya, dia akan lompat dari kursi dan berteriak, “Kau menemukannya! Kau berhasil! Ini mukjizat!” (lihat buku kenangan masa kecilnya dalam Boy Tales of Childhood).

Karena mimpi-mimpi indah mengenai cokelat itulah, Roald Dahl tidak ragu untuk mengambil tema mengenai cokelat beserta penemuan-penemuan baru dalam buku Charlie and the Chocolate Factory.

1. Charlie and the Chocolate Factory

Buku ini bercerita mengenai anak laki-laki bernama Charlie Bucket yang tinggal bersama orang tuanya (Mr. dan Mrs. Bucket), Grandpa Joe dan Grandma Josephine (orang tua Mr. Bucket) serta Grandpa George dan Grandma Georgina (orang tua Mrs. Bucket). Mereka tinggal dalam rumah kayu sempit yang reyot di pinggir kota dengan dua kamar dan satu tempat tidur. Tempat tidur diberikan pada keempat kakek dan nenek Charlie yang sangat tua dan selalu kelelahan sehingga tidak pernah meninggalkan tempat tidur sama sekali. Sementara Charlie, Mr. dan Mrs. Bucket tidur di kamar satunya, di kasur yang melantai, yang pada musim dingin terasa sangat tidak nyaman karena angin dingin berhembus melalui celah lantai sepanjang malam.

Mereka terlalu miskin untuk membeli apapun, karena dalam keluarga itu hanya Mr. Bucket yang punya pekerjaan. Dia bekerja di pabrik pasta gigi, duduk di bangku sepanjang hari dan memasang tutup kecil pada pasta gigi tersebut. Gajinya yang minim hanya mampu untuk membeli roti dan margarin untuk sarapan, kubis rebus untuk makan siang dan sup kubis encer untuk makan malam. Tapi hari Minggu sedikit istimewa karena dengan menu yang sama, mereka boleh menambah porsi.

Keluarga Bucket memang tidak kelaparan, tapi perut mereka selalu kosong. Apalagi bagi Charlie. Makanan itu tidak cukup untuk tubuhnya yang sedang tumbuh. Tapi paling tidak sekali setahun, seluruh keluarga akan menyisihkan uang mereka untuk membeli sebatang kecil cokelat untuk hadiah ulang tahun Charlie. Dan setelah menerima hadiah di pagi hari, biasanya Charlie akan menyimpan cokelat itu dengan hati-hati dalam kotak kayu miliknya, hanya dilihat dan tidak disentuh sama sekali seolah-olah itu adalah harta karun yang sangat berharga. Ketika sudah tidak tahan lagi, dia akan menggigit sedikit demi sedikit sehingga sebatang cokelat kecil baru akan habis setelah lebih dari sebulan.

Hal yang paling menyiksanya lebih dari melihat tumpukan cokelat di etalase adalah melewati Wonka’s Factory, pabrik cokelat yang paling besar dan paling terkenal di seluruh dunia milik Mr. Willy Wonka, seorang pencipta dan pembuat cokelat paling hebat. Dalam sepuluh tahun terakhir, pabrik itu terus bekerja tanpa ada satu orangpun yang keluar masuk ke tempat itu.

Sebelumnya, pabrik cokelat itu beroperasi sebagaimana umumnya pabrik-pabrik lain. Ada ribuan pekerja yang bekerja di pabrik milik Mr. Willy Wonka tersebut, Grandpa Joe salah satunya. Lalu pada suatu hari, Mr. Wonka harus meminta setiap pekerja itu untuk pulang dan tak kembali lagi untuk selamanya. Lalu ia menutup gerbang utama dan mengikatnya dengan rantai.

Ini karena semua pembuat cokelat lainnya mulai iri dan mengirim mata-mata, pura-pura jadi pekerja di pabrik Mr. Wonka dan mencuri resep rahasianya. Sebab tak lama sesudah itu, pabrik Fickelgruber mulai membuat es krim yang tak bisa meleleh bahkan di bawah terik matahari sekalipun. Sementara pabrik Mr. Prodnose memperkenalkan permen karet yang tak bisa hilang rasanya meski lama dikunyah dan pabrik Mr. Slugworth membuat balon yang bisa ditiup sampai besar sebelum ditusuk dengan jarum dan dimakan habis. Semuanya sama persis dengan produk-produk dari Wonka’s Factory.

Semua orang termasuk Charlie sangat penasaran orang macam apa yang bekerja di pabrik Mr. Wonka sekarang. Sampai akhirnya terdengar kabar bahwa lima anak yang menemukan tiket emas di dalam bungkus cokelat buatan Mr. Wonka, diperbolehkan berkunjung ke pabriknya sehari penuh ditemani dengan satu atau dua orang keluarga. Dan bila saatnya pulang, mereka akan mendapatkan persedian makanan enak-enak selama seumur hidup. Bayangkan apa yang terjadi. Seluruh dunia berlomba-lomba mendapatkan tiket itu.

Tiket emas pertama ditemukan oleh Augustus Gloop, anak laki-laki sangat gemuk yang dalam sehari makan begitu banyak cokelat. Yang kedua ditemukan oleh Veruca Salt. Ayahnya, pemilik pabrik kacang, memerintahkan seluruh pekerja untuk mengupas pembungkus batang cokelat untuk diberikan pada anak perempuan kesayangannya. Yang ketiga ditemukan oleh Violet Beauregarde, anak perempuan yang tidak pernah berhenti mengunyah permen karet. Sementara yang keempat ditemukan oleh Mike Teavee yang hanya menghabiskan waktunya sepanjang hari di depan televisi. Dan tiket terakhir, tentu saja merupakan keajaiban karena ditemukan oleh Charlie saat dirinya tidak sengaja menemukan uang  logam di dalam got dan dalam keadaan sangat kelaparan, hanya satu hal yang terpikir untuk dibelinya, yaitu makanan. Dan makanan artinya cokelat.

Dan begitulah kemudian, kelima anak beruntung itu memenangkan perjalanan paling berkesan seumur hidup, berkeliling pabrik cokelat Mr. Wonka yang penuh keajaiban dengan temuan-temuannya yang sangat menakjubkan (buttercup, butterscotch, buttergin, toffee rambut, penyumpal mulut abadi, bantal marshmallow yang bisa dimakan, kertas dinding kamar anak yang bisa dijilat, es krim panas buat hari-hari dingin, minuman yang mengangkat, permen persegi yang tampak bundar, permen pelangi, fudge tangan ajaib, dan lain-lain) serta ruangan-ruangan yang sangat indah (Ruang Cokelat, Ruang Penciptaan, Ruang Kacang, Ruang Cokelat Televisi, dan lain-lain) sampai kemudian satu demi satu anak-anak tereliminasi karena tidak menuruti perkataan Mr. Wonka.

Pada akhirnya tersisa Charlie, seorang anak yang baik dan berakal sehat yang menerima hadiah istimewa melebihi persediaan permen dan cokelat seumur hidup. Hadiah yang fantastis, memukau, menakjubkan, memesona, menggembirakan dan tak ternilai berupa pabrik cokelat beserta seluruh pekerja rahasianya, Oompa-Loompa.

2. Charlie and the Great Glass Elevator

Buku ini adalah kelanjutan kisah dari Charlie and the Chocolate Factory. Buku yang paling membosankan dari semua buku Roald Dahl yang pernah saya baca. Namun, buku tetaplah buku, yang menyimpan sejuta misteri dan keajaiban.

Dengan Elevator Kaca Luar Biasa miliknya (lift super besar yang terbuat dari kaca tebal dan bening dengan ribuan tombol di setiap sisi dinding dan langit-langit yang bukan hanya bisa naik dan turun, tapi juga bisa bergerak ke samping, lurus, miring dan ke mana saja), Mr. Wonka, Charlie dan Grandpa Joe menjemput seluruh keluarga untuk tinggal di Wonka’s Factory. Namun saat akan kembali ke pabrik, Grandma Josephine mengacaukan segalanya, sehingga Mr. Wonka terlambat memencet sebuah tombol yang akhirnya membuat mereka semua melesat terbang sampai ke ruang angkasa.

Mereka mendarat di Hotel Angkasa, hotel dengan fasilitas lengkap yang baru saja diluncurkan oleh Amerika Serikat. Hotel yang dikira kosong ini, ternyata sudah penuh dengan gerombolan Knid Pengacau, makhluk paling kejam, paling jahat, paling berbisa dan mematikan di seluruh jagat raya. Knid-knid itu menyerang elevator dan juga menelan puluhan pekerja yang baru sampai di Hotel Angkasa. Namun berkat ide brilian Charlie dan kehebatan Mr. Wonka, mereka berhasil lolos dari para Knid Pengacau dan bahkan menyelamatkan Kapsul Transpor yang berisi tiga astronaut dan seluruh karyawan Hotel Angkasa ‘AS’.

Mereka bahkan diundang langsung oleh Presiden Amerika Serikat untuk datang ke Gedung Putih di Washington sebagai tamu kehormatan, meski Grandma Josephine, Grandpa George dan Grandma Georgina sebelumnya sempat merasakan menelan Wonka-Vite (pil untuk lebih muda) dan Vita-Wonk (pil untuk lebih tua) dulu sebelum akhirnya benar-benar mampu meninggalkan tempat tidur mereka.

P.S.: Kabarnya Roald Dahl ingin meneruskan kisah tersebut dalam buku ketiga berjudul Charlie in the White House. Tetapi pada kenyataannya, dia hanya menulis sampai satu bab saja.

3. Roald Dahl’s Incredible Chocolate Box

Buku ini berisi A-Z fakta-fakta singkat mengenai cokelat, Roald Dahl dan karya-karyanya. Fakta dalam Bab C (Charlie and the Chocolate Factory) bercerita mengenai Roald Dahl yang telah selesai menulis Charlie and the Chocolate Factory dan meminta keponakannya, Nicholas membaca buku tersebut. Tanggapannya singkat. Menurutnya buku itu buruk dan membosankan.

Charlie n the Chocolate Factory2 (2)

Sebenarnya ada empat versi Charlie and the Chocolate Factory yang ditulis oleh Roald Dahl sebelum akhirnya dia mendapatkan segudang penghargaan yang melambungkan namanya. Ada terlalu banyak anak nakal dalam versi awal sehingga banyak bab yang dihilangkan. Dalam buku ini, saya merasa sangat beruntung karena dapat membaca salah satu bab “rahasia” yang hilang dari buku Charlie and the Chocolate Factory. Tetapi karena bab ini berjudul “Top Secret”, maka saya harus menggunakan cermin untuk membaca tulisan terbalik untuk menghindari Fickelgruber, Prodnose dan Slugworth mengintip salah satu resep rahasia Mr. Wonka (Rasanya seperti kembali ke masa-masa membaca bagian “jawaban” dalam serial duo detektif cilik Hawkeye Collins & Amy Adams karangan M. Master. Kapan-kapan saya bahas serial keren ini yaaa…).

Bab yang hilang ini berjudul “Spotty Powder” yang bercerita mengenai salah satu penemuan Mr. Wonka yang luar biasa berupa bubuk ajaib yang bentuk maupun rasanya seperti gula, tetapi bukan gula. “Yang perlu kaulakukan adalah menaburkannya di atas cereal pada saat sarapan. Setelah memakannya, tepat 5 detik kemudian seluruh tubuhmu akan penuh dengan bintik-bintik merah dan ibumu menyangka kamu terkena cacar air sehingga kamu tidak perlu pergi ke sekolah. Namun pada jam makan siang, bintik-bintik itu akan lenyap,” jelas Mr. Wonka pada Miranda Piker yang setiap berbicara, dari nada suaranya seolah mengatakan bahwa, “semua orang bodoh kecuali aku.”

Spotty Powder bisa berguna bagi anak-anak yang kepepet yang tidak mau mengikuti ujian, tapi tidak boleh terlalu sering dipergunakan.

Miranda Piker yang berpikir bahwa anak-anak seharusnya belajar, bekerja dan tidak boleh bermain sama sekali serta semestinya liburan sekolah ditiadakan, didukung oleh ayahnya (Kepala Sekolah) dan bersama-sama mereka menerobos masuk ke dalam Ruang “Most Secret” untuk menghancurkan mesin pembuat Spotty Powder.

Setelah beberapa saat berlalu, terdengarlah teriakan menakutkan dari Mr. Piker yang disusul dengan jeritan histeris dari Miranda Piker. Teriakan dalam sebuah ruangan yang penuh dengan roda penggerak, roda-roda besar dan rantai-rantai yang selalu berputar-putar tiada henti.

Seperti biasa, bencana ini diikuti oleh nyanyian, tarian dan permainan musik dari Oompa-Loompa:

Oh, Miranda Mary Piker,
How could anybody like her,
Such a priggish and revolting little kid.
So we said, “Why don’t we fix her
In the Spotty-Powder mixer
Then we’re bound to like her better than we did.”
Soon this child who is so vicious
Will have gotten quite delicious,
And her classmates will have surely understood
That instead of saying, “Miranda!
Oh, the beast! We cannot stand her!”
They’ll be saying, “Oh, how useful and how good!”

Di dalam buku ini juga terdapat fakta-fakta menarik mengenai bagian-bagian lainnya yang dihilangkan dalam Charlie and the Chocolate Factory.

Charlie n the Chocolate Factory2 (1)

4. Film Willy Wonka and the Chocolate Factory (1971) & Charlie and the Chocolate Factory (2005)

Terus terang, saya pribadi lebih suka film Willy Wonka and the Chocolate Factory versi David L. Wolper. Di sini sosok Willy Wonka (diperankan Gene Wilder) mempunyai kepribadian yang begitu kuat, terlihat hebat dan berkarisma serta senyum tipisnya saat melontarkan kata-kata sinis tidak bisa dihilangkan dari kepala (buktinya sampai ada meme-nya segala kan? Hehehe).

Saya akui Willy Wonka versi Johnny Depp dalam Charlie and the Chocolate Factory karya Tim Burton terlihat lebih eksentrik. Namun sikapnya yang kekanak-kanakan, mudah terintimidasi dan seolah “punya dunia sendiri” serta tidak membumi, membuatnya semakin tidak realistis (maaf banget buat para penggemar Johnny Depp, meski belum pernah mendapatkan Piala Oscar, saya pribadi sebenarnya suka sekali dengan akting brilian Johnny Depp yang berwarna-warni… tapi tidak di film ini ya).

Di samping itu, film versi Tim Burton yang terkesan suram, kelam dan misterius lebih cocok dikategorikan sebagai film dewasa, ketimbang film anak-anak sebagaimana genre bukunya  (khas dia banget sih dan saya sendiri termasuk pencinta film-film dan puisinya-terutama The Melancholy Death of Oyster Boy yang menginspirasi saya membuat beberapa puisi dengan atmosfer serupa-tapi lagi-lagi… tidak film ini). Tambahan latar belakang Willy Wonka dengan konflik terhadap ayahnya yang sama sekali tidak tertera dalam buku, ditambah akhir film yang berbeda, terasa mengganggu.

Mengenai Oompa-Loompa, dengan sangat subjektif saya merasa versi film Wolper seperti yang saya bayangkan. Kecil, mungil dan “sedikit” lebih periang ketimbang Oompa-Loompa versi Burton yang terlihat seperti “grumpy old man” dengan musik dan nyanyian yang terlalu panjang, datar dan membosankan.

Meski berbeda dengan versi buku, tapi nyanyian Oompa-Loompa dalam Willy Wonka and the Chocolate Factory-nya Wolper lebih mengena, tidak bertele-tele dengan musik yang gampang diingat.

Satu bagian favorit saya dan anak-anak (bahkan sampai sekarang menjadi nada dering di handphone saya) adalah nyanyian Oompa-Loompa dalam Ruang Cokelat Televisi, setelah ukuran tubuh Mike Teavee berubah menjadi sangat kecil (tak lebih dari 2,5 cm), ketika dia memaksa ingin dikirim lewat televisi:

Oompa, Loompa, doom-pa-dee-do

I have another puzzle for you
Oompa, Loompa, doom-pa-da-dee
If you are wise, you’ll listen to me

What do you get from a glut of TV?
A pain in the neck and an IQ of three
Why don’t you try simply reading a book?
Or can you just not bear to look?

You’ll get no…you’ll get no…you’ll get no commercials

Oompa, Loompa, doom-pa-dee-da
If you’re not greedy, you will go far
You will live in happiness too
Like the Oompa Loompa doom-pa-dee-do

(Foto-foto: koleksi pribadi)

Comments

comments