Seperti apa suka duka Peter Basuki sejak ia menggeluti karir sebagai promotor musik dari dulu hingga sekarang? Kepada Nicko Krisna, pria yang dikenal ramah dan bersahabat ini menceritakan pengalamannya mulai dari bagaimana sulitnya ia meminta pihak kepolisian agar pertunjukan Deep Purple tetap berlangsung saat salah satu crew mereka meninggal, keinginannya yang belum terwujud hingga tips untuk bisa menjadi promotor yang baik dan konsisten!

Sampai saat ini, formula seperti apa yang selalu Anda gunakan dalam setiap mendatangkan artis asing?
Pertama kita harus kuat di masalah networking-nya dulu. Ibaratnya, sebagai promotor kita harus punya dua jantung, karena bisa saja artis itu tiba-tiba membatalkan konsernya. Apalagi stigma negara kita sebagai tempat yang tidak aman untuk dikunjungi sering sekali dijadikan alasan musisi mancanegara untuk membatalkan pertunjukannya di sini.

Kejadian apa saja yang Anda alami saat ingin mendatangkan artis asing, namun terhalang masalah stigma tersebut?
Yang terbaru The Police. Mereka memang tidak ingin bermain di Indonesia murni karena masalah keamanan. Padahal saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendatangkannya. Sebenarnya saya juga mengincar artis fenomenal semacam Madonna dan band legendaris seperti U2. Namun saya dengar Madonna memang sudah masuk daftar blacklist artis yang dilarang main di beberapa negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Madonna lebih karena masalah yang berhubungan dengan keagamaan. Sementara U2 memang sudah menganggap negara kita adalah tempat bersarangnya para koruptor. Mereka isunya lebih ke politik. Seperti yang telah Anda ketahui, Bono paling sensitif dengan masalah-masalah seperti itu. Waktu Buena akan mendatangkan The Moffats pun saya mengalami hal serupa. Mereka takut dengan kondisi di Jakarta yang saat itu sedang ramai-ramainya karena kasus antara PDI Megawati dan Soerjadi yang mengakibatkan banyaknya korban yang tewas. Kalau dulu sih sewaktu saya mendatangkan Tina Turner tahun 1976, dia melarikan diri menggunakan pesawatnya sendiri karena tidak puas dengan sound dari kita. Ternyata setelah diusut oleh pihak saya, Tina tidak jadi konser karena berantem dengan suami pertamanya, Ike Turner, sehingga dia kesal dan membatalkan show-nya di Indonesia. Lalu La Toya Jackson. Pada saat itu dia memang sedang bermasalah dengan suaminya, hingga secara tiba-tiba membatalkan konsernya di Indonesia. Hahaha.

Adakah artis asing yang akan Anda datangkan lagi dalam waktu dekat ini?
Diana Ross bulan Maret, duet George Benson & Al Jarreau bulan Mei, Andrea Bocelli bulan Agustus dan Josh Groban di bulan September. Sebelumnya, Andrea Bocelli sempat membatalkan niatnya untuk konser di sini. Akhirnya saya mendatangi dia  sampai ke Hong Kong, karena Andrea sudah terikat kontrak dengan Buena. Sampai saya datangi kamarnya sambil membawa-bawa kontrak hitam di atas putih. Anda tahu apa yang terjadi di dalam kamar? Dia menghibur saya dengan lagu-lagunya yang fantastis itu sambil memberikan kepastian bahwa dia berjanji akan mendatangi Indonesia di bulan Agustus.

Kenapa Buena selalu mendatangkan artis yang living legend typical seperti Deep Purple, Level 42, Lionel Richie, George Benson?
Saya mendatangkan artis-artis tersebut purely business oriented. Tidak ada itu namanya market saya terpatri dengan tipe maupun genre musik tertentu. Seandainya bisa, mungkin saya juga akan mendatangkan  artis hip-hop semacam 50 Cent.

Sampai sekarang, siapa artis yang belum kesampaian untuk Anda datangkan?
Sudah pasti Genesis, ya. Saya sedang berusaha keras untuk mendatangkan mereka secara eksklusif. Saat ini mereka sedang ada di Australia. Buena Productions sedang dalam tahap pendekatan dengan pihak mereka.

Apa kendala terberat selama mendatangkan artis luar?
Kargo. Saya sih berharap mereka tidak membawa kargo, ya, karena itu sangat memberatkan. Tapi mau diapakan lagi, fasilitas di sini memang belum sebagus di luar sana. Selain itu jika kita sedang mendekati seorang artis atau sebuah kelompok, berita tentang Indonesia terus di-update oleh pihak management mereka. Sampai soal banjir yang sedang melanda Jakarta hari ini, mereka juga tahu! Tapi untungnya Buena punya orang yang pintar meng-counter jika ada masalah-masalah seperti itu. Kehadiran bandband asing yang belakangan banyak manggung di sini seperti Fall Out Boy, My Chemical Romance, Bjork juga turut berperan besar untuk membuat mereka percaya bahwa Indonesia, khususnya Jakarta itu aman!

Berapa rekor jumlah penonton terbanyak untuk artis asing yang pernah Anda datangkan?
Sewaktu kita mendatangkan Deep Purple tanggal 4 dan 5 Desember tahun 1975, ya. Buena waktu itu membuat konser untuk mereka dua hari di Stadion Utama Senayan, per harinya yang nonton ada 50.000 orang, jadi total yang menonton Deep Purple itu ada 100.000 orang termasuk manusia-manusia yang datang dari negara tetangga. Waktu itu saya masih sangat muda sekali!

Bisa ceritakan kerusuhan yang terjadi pada saat itu?
Bayangkan, anjing Doberman yang kita kerahkan untuk membantu pihak keamanan mengamankan penonton yang tidak tertib begitu ketakutan melihat ulah beringas penonton kita yang sangat ugal-ugalan! Padahal anjing-anjing Doberman itu sengaja kita lepas untuk membantai beberapa  penonton yang melakukan pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan yang sebagian besar berasal dari Jakarta International School. Tapi malah anjing-anjing itu yang ciut nyalinya menyaksikan kebrutalan penonton kita ketika memerkosa wanita-wanita tersebut. Sangat brutal!

Kenapa bisa terjadi seperti itu?
Ada oknum dari pihak keamanan yang sengaja memasukan orang-orang dengan cara bayar kepada mereka, ditambah banyaknya tiket palsu yang beredar. Tahu sendiri pada masa tersebut kita masih sangat konservatif, tidak bisa membedakan tiket yang asli dan palsu, ditambah pihak aparatnya yang memang sangat tidak siap menghadapi event sebesar itu.

Terus bagaimana ceritanya dengan crew Deep Purple yang meninggal pada saat itu?
Pada saat itu saya sedang menghitung jumlah tiket yang laku di hari pertama ketika saya mendengar bunyi jatuh yang sangat keras sekali! Setelah saya cek ternyata crew-nya Deep Purple yang berbobot sekitar 125 kg jatuh karena keasyikan bercanda. Entah bagaimana ceritanya dia tiba-tiba bisa terjatuh dari pintu lift lantai enam Hotel Sahid jaya. Setelah diperiksa, pintu lift tersebut memang sedang dalam perbaikan. Lalu ia dibawa ke rumah sakit dan keesokan harinya pria tersebut meninggal. Kemudian seluruh anggota Deep Purple dibawa ke Polda Metro Jaya. Seharian saya mengurusi mereka di sana. Bayangkan! Band legendaris dunia itu nongkrong seharian sambil duduk-duduk di depan pintu masuk Polda Metro Jaya untuk diperiksa dan menunggu keputusan dari pihak kepolisian. Saya memohon-mohon kepada pihak mereka agar para anggota Deep Purple bisa segera meninggalkan Polda, karena malam itu mereka harus segera melakukan konser yang tiketnya sudah terjual habis. Akhirnya kita bisa keluar dan mereka bisa menuntaskan konsernya dengan baik malam itu. Bayangkan kalau konser tersebut batal, mungkin Stadion Utama Senayan akan dibakar. Lucunya, pada saat saya mendatangi Polda untuk menjemput para anggota Deep Purple, mereka sedang kepedasan ketika melahap Nasi Padang yang disediakan oleh pihak Polda untuk makan siang mereka.

Ada tips dari Anda bagi mereka yang ingin memulai karirnya sebagai promotor?
Anda harus menyukai yang namanya tantangan. Dan seperti yang saya sebutkan tadi, mental kalian harus benar-benar baja untuk menghadapi segala sesuatu yang bisa saja terjadi di luar dugaan kita. Ibaratnya, kita harus punya dua jantung dan siap-siap saja untuk merugi pada saat memulai karir sebagai promotor.

 

 

 

Comments

comments